“ GAP MANAGEMENT “
A.
Pendahuluan
Gap Management
merupakan salah satu bagian yang penting dalam ALMA. Gap Management adalah
strategi untuk memaksimalkan net income margin (NIM) melalui siklus margin/bagi
hasil. Strategi ini pada dasarnya meliputi komponen-komponen yang variable dan
yang fixed sesuai dengan fase dan siklus margin/bagi hasil untuk mencapai
profitabilitas yang optimal.
Terjadinya risiko atau diraihnya keuntungan dikaitkan
langsung dengan terjadinya perubahanperubahan dinamis tingkat margin/bagi
hasil. Keuntungan diperoleh jika bank berhasil meraih kinerja dan kondisi
keuangan yang bagus, sehingga menghasilkan tingkat profitabilitas yang tinggi.
Sedangkan risiko yang dihadapi bank terjadi bila kurang berhati-hati, bank
mengalami kondisi yang buruk sehingga menghadapi kemungkinan insolvensy.
Equity atau net
aset merupakan selisih antara asets dan liabilities. Apabila harga pasar dari
asets dan liabilities berubah, perubahan itu dapat memengaruhi besaran modal.
Bank dapat terlindung dari risiko tersebut bila dapat dicapai kombinasi dan
komposisi yang paling tepat sesuai fluktuasi yang terjadi pada tingkat
margin/bagi hasil antara asets dan liablities yang dalam perbankan konvensional
dikenal dengan rate sensitive asets (RSA) dan rate sensitive liabilities (RSL).
Istilah spread
sering disamakan penggunaannya dengan “margin” meskipun kedua istilah ini
sebenarnya memiliki pengertian yang lebih spesifik. Spread dalam pengertian
umum adalah selisih anatar biaya dana (Borrowing Rate) dengan tingkat bunga
kredit (Lending Rate) atau selisih antara Bidding Rate dan Offering Rate yang
sering digunakan dalam transaksi pasar uang. Sementara istilah margin sering
dikaitkan dengan perbedaan tingkat risiko antara kedua jenis suatu investasi
atau surat berharga.
Meskipun pada
bank syariah tidak menetapkan rate, tetapi margin atau bagi hasil yang
ditetapkan akan memperhatikan pricing di pasar yang akan berpengaruh terhadap
tingkat margin atau nisbah yang ditetapkan.
B.
Pembahasan
1.
Pengertian
Manajemen GAP
adalah upaya-upaya untuk mengelola dan mengendalikan kesenjangan (GAP) antara
asset dan liabities pada suatu periode yang sama, meliputi kesenjangan dalam
hal jumlah dana, suku bunga, saat jatuh tempo (maturity) atau perpaduan antara
ketiganya (kesenjangan tercampur atau mix match). Atau dengan kata lain
menejemen GAP adalah upaya untuk mengatasi perbedaan (mismatch) antara asset
sensitif terhadap bunga (Rate Sensitive Assets /RSA) dan pasiva yang sensitive terhadap
bunga (Rate Sensitive Liabilities/RSL).
Dalam neraca
bank hampir selalu terjadi ketidakseimbagan antara sumber daya di sisi
liabilities dengan penggunaan dana di sisi asset.
2.
Tujuan
Manajemen GAP
a.
Menghindari
kerugian akibat dari gejolak tingkat bunga.
b.
Mengusahakan
pendapatan yang maksimal dalam batas risiko tertentu.
c.
Menunjang
kebutuhan manajemen likuiditas.
d.
Mengelola
risiko serendah mungkin.
e.
Menyusun
struktur neraca yang dapat meningkatkan kinerja dengan tingkat suku bunga yang
wajar.
3.
Pengukuran
GAP
Pengukuran besarnya gap antara sisi aktiva dengan sisi pasiva
diukur dengan menggunakan Interest maturity ladder, yaitu berupa suatu tabel
yang disusun dari aset dan liabilities yang dikelompokkan menurut periode
peninjauan bunganya. Besarnya gap akan menentukan besarnya potensi keuntungan
atau kerugian yang akan timbul dari perubahan tingkat bunga tersebut. Besarnya
gap dapat berubah membesar atau mengecil karena transaksi-transaksi yang
dilakukan.
4.
Strategi
Manajemen Gap
Perubahan suku bunga akan menimbulkan dampak yang tidak sedikit
terhadap struktur neraca maupun kinerja bank. Oleh karena itu timbul
upaya-upaya untuk mengelola Interest rate Management, yaitu suatu kegiatan
untuk menata interest rate secara simultan atau bersamaan antara sisi asset maupun
sisi liabilities sehingga dapat diperkecil dampak negatif perubahan suku bunga
terhadap target pencapaian pendapatan bersih yang stabil dan berkembang.
Upaya
untuk mencapai positive gap, bila diketahui bahwa tingkat margin/bagi hasil
cenderung meningkat, karena aset yang di–reprice lebih besar dari liabilitiy
nya. Sehingga Net Income Margin akan bertambah seiring dengan lebih cepatnya
perkembangan pendapatan margin/bagi hasil daripada perkembangan biaya bagi
hasil.
Upaya
untuk mencapai negative gap, bila diketahui bahwa tingkat margin/bagi hasil
cenderung menurun, karena liability yang di–reprice lebih besar dari aset-nya.
Akibatnya Net Income Margin akan bertambah karena biaya bagi hasil turun lebih
cepat dari pendapatan margin/bagi hasil.
Apabila
tingkat margin/bagi hasil berfluktuasi tanpa dapat diprediksi dengan tepat
pergerakannya, strategi yang paling aman adalah dengan memperkecil gap
tersebut, bila mungkin berupaya mencapai zero gap.
Strategi
mana pun yang diterapkan, tujuan gap management tersebut adalah agar dapat
mengelola risiko perubahan tingkat margin/bagi hasil dalam hubungannya dengan
mismatch untuk tujuan repricing structure pada kedua sisi neraca (asets dan
liabilities) untuk mengoptimalkan net income margin.
Pada
akhirnya dalam mengoptimalkan keuntungan, bank lebih banyak tergantung pada
kemampuan dalam menyalurkan dana dan memelihara kualitas asets yang menentukan
kemampuan bank dalam meningkatkan daya tariknya kepada nasabah untuk
menginvestasikan dananya melalui UUS/bank syariah yang berarti akan dapat
meningkatkan profitabilitasnya.
Hal ini sangat penting karena besaran bagi
hasil yang akan diterima nasabah sangat tergantung pada pendapatan margin
maupun pendapatan bagi hasil yang diperoleh dari hasil operasional UUS/Bank
yang bersangkutan.
5.
Hal
penting dalam penataan manajemen gap :
a.
Jangka
waktu
b.
Repricing
c.
Interest
rate
d.
Acceleration
of Change
Tindakan
yang dapat dilakukan untuk memperbaiki struktur neraca maupun kinerja adalah :
a.
Menata
kembali komponen-komponen asset dan liabilities yang sensitive terhadap suku
bunga.
b.
Melakukan
analisis risiko gap.
c.
Kebijakan
besarnya limit gap.
Dalam
pelaksanaan pengambilan kebijakan oleh manajemen bank, apakah akan mengambil
posisi gap positif atau negatif tergantung pada tiga hal :
a.
Perkiraan
arah perkembagan tingkat bunga.
b.
Tingkat
keyakinan manajemen terhadap prakiraan tersebut.
c.
Keberanian
bank untuk mengambil risiko jika tindakan yang diambil keliru.
Agar
strategi gap pada suatu bank dapat efektif harus didukung oleh kibijakan
pricing yang yang sesuai dan adanya infrastruktur yang dapat memberikan data
RSA dan RSL dengan cepat dan kontinyu untuk keperluan analisis.
6.
Pengaruh
Strategi Gap terhadap Pendapatan
Dalam menentukan strategi gap senantiasa dipertimbagkan risiko yang
akan dihadapi yakni dengan menetapkan target/ limit risiko sampai pada tingkat
tertentu yang dapat diterima.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar