Minggu, 18 Mei 2014

KEBIJAKAN ALMA

“ KEBIJAKAN ALMA “

A.    Pendahuluan
Asset and Liability Management ( ALMA) adalah suatu usaha untuk mengoptimumkan struktur neraca bank sedemikian rupa agar diperoleh laba maksimal dan sekaligus membatasi resiko menjadi sekecil mungkin.
Adanya manajemen pricing yang menjamin bahwa strategi penetapan tingkat bunga dapat menunjang proses pelaksanaan manajemen gap, likuiditas dan manajemen valuta asing. Kemudian untuk melaksanakan ALMA framework diatas, perlu dibentuk organisasi ALMA pada suatu bank. Organisasi ALMA bank pada umumnya terdiri dari Asset Liability Committe (ALCO) atau unit organisasi lainnya yang mempunyai hak formal yang sama dengan ALCO dan ALCO Support Group (ASG).
Dalam organisasi tersebut ditetapkan tanggung jawab ALCO, yaitu menetapkan tujuan, membuat keputusan ALMA, mementau kegiatan dan menelaah hasil kebjakan ALMA. Sedangkan tanggung jawab ASG adalah mengumpulkan data internal dan eksternal, emnyusun analisis, mengembangkan strategi dan scenario, membuat laporan, mengajukan saran-saran untuk rapat ALCO dan memantau pelaksanaannya. Proses pembuatan kebijakan ALMA dilakukan olh direksi bank. Kebijakan yang dimaksud antara lain berupa penetapan limit dan target setiap bidang, rasio-rasio strategi pendanaan dan penenaman dana,struktur neraca, kebijakan harga, kebutuhan modal, dll.
B.     Fungsi ALMA
Untuk lebih memudahkan dan memahami bidang tugas ALMA, dalam pembahasan berikut akan dijelaskan fungsi-fungsi utama yang terdapat dalam ALMA yaitu :
1.      Manajemen Likuiditas
Manajemen likuiditas adalah kemampuan manajemen bank dalam menyediakan dana yang cukup untuk memenuhi semua kewajiban-kewajiban maupun komitmen yang telah dikeluarkan kepada nasabahnya setiap saat. Pengelolaan likuiditas tersebut dilakukan untuk memenuhi pekerjaan-pekerjaan sebagai berikut:
a.       Kemampuan untuk memprediksi kebutuhan dana di masa yang akan datang.
b.      Mencari sumber dana untukmencukupi jumlah yang dibutuhkan.
c.       Melakukan penatausahaan untuk arus dana yang masuk dan keluar.
2.      Manajemen Gap (Mismatch)
Manajemen Gap adalah upaya-upaya untuk mengelola dan mengendalikan kesenjangan (gap) antara aset dan liabilities pada suatu periode yang sama, meliputi kesenjangan dalam hal jumlah dana, suku bunga, saat jatuh tempo atau perpaduan antara ketiganya. Atau dengan kata lain manajemen gap adalah upaya untuk mengatasi perbedaan (mismatch) antara aset yang sensitif terhadap bunga (Rate Sensitive Assets/RSA) dan pasiva yang sensitif terhadp bunga (Rate Sensitive Liabilities/RSL). RSA adalah aktiva berbunga yang bunganya dapat berubah setiap saat, contoh surat-surat berharga sedangkan RSL adalah pasiva berbunga yang bunganya dapat berubah setiap saat, misalnya deposito berjangka, dana yang bunganya dikaitkan dengan SIBOR/LIBOR.
Secara singkat gap dirumuskan (Koch &  McDonald, 2000:36)
GAP = RSA – RSL
Posisi gap dapat positif, negatif atau nol.
Dalam neraca bank hampir selalu terjadi ketidakseimbangan antara sumber dana di sisi liabilities dengan penggunaan dana disisi aset. Sehingga perlu dilakukan strategi manajemen di bidang pendanaan maupun penempatannya (investment). Untuk merealisir strategi tersebut dengan sebaik-baiknya harus dilakukan dengan mengubah tingkat suku bunga, baik suku bunga simpanan maupun suku bunga pinjaman.
3.      Manajemen Valuta Asing
Manajemen valuta asing adalah suatu kegiatan membeli atau menjual mata uang suatu Negara. Kegiatan jual beli valuta asing membentuk suatu pasar yang disebut dengan pasar valas. Pasar valas dapat dikatakan sebagai transaksi jual beli melalui jaringan komunikasi antara bank-bank, brokers atau deler di seluruh dunia yang dilakukan di ruangan masing-masing bank yang telah dilengkapi dengan jaringan komunikasi. Manajemen valas ditujukan untuk membatasi posisi eksposur masing-masing mata uang asing (foreign currency) serta memonitor kegiatan jual beli valas supaya posisinya terkendali. Secara garis besar tindakan manajemen valas dapat berupa :
a.       Pengendalian kesejahteraan mata uang asing, yang meliputi rekayasa portofolio masing masing mata uang,dll.
b.      Pengendalian keuntungan netto dari nilai tukar, yang meliputi penetapan break even exchange rate, dll
C.     Hubungan Manajemen Asset (ALMA) & LIABILITAS  dengan Asset Liability Committe (ALCO)
Produksi dalam industri perbangkan adalah aktivitas bank yang tercermin dalam neraca asset/liability sementara hasil produksi adalah laporan laba/rugi. Hasil produksi yang optimal dapat dicapai jika para pejabat bank syariah  mampu mempersiapkan perencanaan dan pengaturan penghimpunan dan pengalokasian dana. Oleh karena itu, perencanaan dan pengaturan dana akan berjalan baik harus dilakukan oleh pihak atau badan ynag baik. Badan ini biasanya berbentuk ttim atau panitia atau disebut commitee ataupun dewan khusus.
Dewan khusus atau tim yang mengelola manajemen dana atau lebih luas lagi pada pengelolaan asset and liability of bank, disebut dengan Asset and Liability Commitee Atau disingkat (ALCO ). Sesuai dengan namanya panitia atau tim ini melakukan kegiatan rutin dan mengadakan pertemuan yang juga diatur secara rutin, misalnya sebulan sekali atau sebulan dua kali. Keberhasilan proses manajemen Asset liability   ( ALMA )  tergantung pada koordinasi serta partisipasi seluruhh bagian-bagian yang terliabat dalam komite untuk menangani masalah-masalah yang menjadi tanggung jawabnya. Agar strategi ALMA dapat efektif, maka beberapa kriteria berikut harus dipenuhi oleh tim atau ALCO, yaitu :
a.       Semua angggota ALCO harus terlibat dan mengerti bahwa strategi ALMA adalah strategi menyeluruh dari asset dan liability.
b.      Semua anggota ALCO harus terlibat dalam pencapaian anggaran yang direncanakan.
c.       Semua anggota ALCO harus berfokus kepada hasil mendatang serta memberikan saran dan pendaapat pemecahan.
d.      Semua anggota ALCO harus saling berhubungan dalam kaitannya dalam pencapaian tujuan.
e.       ALCO harus  merupakan keterpaduan dari seluruh bagian yang ada di bank. Semua bagian harus mempunyai sistem yang mampu memberikan informasi yang tepat, terbaru dan tepat.
f.       Semua anggota ALCO harus mempunyai semangat pembaharuan, mengetahui kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi serta mampu mengantisipasi kemungkinan yang akan terjadi.
g.      Semua anggota ALCO harus berpandangan luas dan saling mendukung tanpa prasangka buruk.
D.    Strstegi dalam ALMA
ALMA (Asset Liability Management) dalam suatu bank syariah merupakan strategi dan pembuatan kebbijakan. Dengan demikian, ALMA pada dasarnya adalah proses perencanaan. Oleh karena itu, beberapa strategi penting yang terlibat dalam Proses ALMA adalah :
1.      Perencanaan Hubungan ALMA dengan perencanaan karena :
-          Dalam proses pengambilann keputusan harus diketahui ke arah mana tujuan yang diinginkan.
-          Dalam proses pengambilan keputusan jangka panjang harus diketahui akibatnya terhadap pencapaian keuntungan, termasuk keadaan likuiditas, keadaan profit rate. Oleh kerena itu, perencanaan merupakan strategi ALMA.
2.      Manajemen Dana
Manajemem dana merupakan salah satu pengelola strategi ALCO dimana apabila perencanaan sebagai strategi dasar, maka manajemen dana sebagai pengelola operasional maka harus dijaga kontinuitas penggunaann serta sumber dananya, secara tepat, baik dari sisi jumlah, waktu maupun harganya.
3.      ManajemenKualitasPembiayaan
Meskipun pengelola strategi operasional dari pinjaman adalah manajemen pembiayaan namun pengambilan keputusan operasional harus dijaga perkembangan serta kualitas pembiayaan sebagai penghasil utama aktivitas bank. Manajemen kualitas pembiayaan digunakan untuk menjaga kualitas pembiayaan sesuai dengan perencanaan. Dalam hal ini perlu adanya tim pengawas pembiayaan.
E.     Hakekat Kebijakan Pengambilan Keputusan ALMA
Pada hakikatnya tahap-tahap pengambilan keputusan yang dilakukan oleh Assets Liability Committee (ALCO) dalam pengelolaan Assets and Liability Management, yaitu sebagai berikut :
-          Tahap 1, merumuskan masalah yang dihadapi dalam rapat secara bersama-sama dengan bagian treasury, bagian kredit, product development research, bagian pemasaran, serta bagian lainnya.
-          Tahap 2, masing-masing bagian mengidentifikasi kriteria yang mungkin untuk mengatasi masalah pada tahap i di atas, serta mengumpulkan kriteria yang mungkin dapat diambil.
-          Tahap 3, mengembangkan alternatif pengambilan keputusan yang mungkin jika ada agar hasil yang dicapai dapat maksimal.
-          Tahap 4, mengadakan analisis terhadap alternatif yang mungkin. Hal ini bertujuan untuk mengadopsi keputusan yang akan diambil, apakah sudah sesuai dengan kondisi maupun perumusan permasalahan yang dilakukan terlebih dulu.  Tahap 5, mengadakan seleksi alternatif.  Tahap 6, implementasi alternatif  Tahap 7, melakukan evaluasi agar hasil yang dicapai sesuai dengan yang diharapkan.
F.      Kesimpulan
Pembuatan kebijakan ALMA dilakukan oleh direksi bank bersama-sama ALCO. Kegiatan pembuatan kebujakan terdiri dari menetapkan tujuan, menetapkan kebijakan dan memberikan pertunjuk, membuat keputusan, memantau kegiatan, menelaah hasil pelaksanaan.
Kebijakan harus dibuat secara tertulis, meliputi seluruh bidang ALMA (likuiditas, gap, valuta asing, dan pricing). Kebijakan dimaksud antara lain berupa penetapan besarnya limit dan target setiap bidang, rasio, strategi pendanaan dan penanaman, struktur neraca, kebijakan pricing, kebutuhan capital adecuacy dan kewenangan dan pendelegasian membiat keputusan.
Setiap kebijakan yang telah diputuskan oleh sekretaris ALCO (ASG) akan disampaikan ke seluruh unit kerja yang terkait dengan keputusan tersebut secara tertulis untuk dilaksanakan dan dipantau pelaksanaannya setiap saat, dan pada waktu tertentu ketetapan tersebut perlu pula dimutakhirkan.

Tidak ada komentar:

CONTOH PIDATO BAHASA INGGRIS MUDAH

Assalammu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh Excellency Mr. ..........  the director of ......... Respectable Mr...................