A.
Pendahuluan
Bukan kisah baru jika proyek-proyek pembangunan yang berlabel
Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi (MP3EI) banyak menuai
kritikan, mengalami penolakan karena dituding mengabaikan hak warga dan
membahayakan lingkungan. Untuk memastikan MP3EI memiliki konsep
pembangunan berkelanjutan, Bappenas pun menggandeng Global Green Growth
Institute (GGGI). Mereka akan berkolaborasi menyusun pedoman yang
‘menghijaukan’ program andalan pemerintah ini.[1]
GGGI Adalah lembaga internasional yang bermarkas di Seoul, Korsel.
Organisasi ini memiliki tujuan untuk mempromosikan 'green growth' sebuah konsep
yang memadukan antara pertumbuhan ekonomi dengan kelestarian lingkungan. GGGI
melakukan penelitian-penelitian dan hasilnya diberikan kepada pemangku jabatan
terutama di negara berkembang agar pertumbuhan ekonomi bisa berlandaskan konsep
green growth.[2]
Organisasi GGGI ini dibentuk pada 16 Juni 2010 lalu. Organisasi
yang bermarkas di Seoul itu, kini dipimpin Lars Lokke Rasmussen. Keberadaan
GGGI bertujuan untuk meningkatkan semangat pertumbuhan hijau, sebuah paradigma
yang ditandai oleh keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan pelestarian
lingkungan secara berkelanjutan, khususnya di negara-negara berkembang. GGGI
merupakan organisasi global pertama berbasis agenda yang diajukan oleh Korea
dan diluncurkan tanpa bantuan PBB. Mendukung program pertumbuhan hijau setiap
negara berdasarkan 2 tujuan utama: menyebarluaskan pertumbuhan hijau sebagai
sebuah model pertumbuhan baru, dan mendukung strategi pertumbuhan hijau
negara-negara berkembang. GGGI yang mengupayakan tujuan ganda, yakni
perlindungan lingkungan dan pertumbuhan ekonomi. Cara kerjanya melalui
kolaborasi dengan pemerintah. Organisasi ini memiliki 22 anggota
negara/pemerintah dan penandatangan perjanjian (ratifikasi). [3]
B.
Pembahasan
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dinominasikan sebagai calon pimpinan dari
Global Green Growth Institute (GGGI) menggantikan mantan PM Lars Rasmussen dan
akan diumumkan dalam pertemuan tahunan organisasi itu pada November 2014 di
Seoul. Dalam sebuah acara yang berlangsung di Conference Building Markas Besar
PBB di New York, Selasa (23/9/2014) petang waktu setempat atau Rabu (24/9) pagi
waktu Jakarta, Presiden Yudhoyono diharapkan dapat memimpin organisasi tersebut
untuk masa dua tahun mendatang sebagai "Chair of Council" dan
"President of Assembly" dari GGGI. Presiden Yudhoyono dalam
sambutannya mengatakan ia menghargai keterpilihannya untuk dinominasikan
sebagai pimpinan GGGI dan bersedia dinominasikan untuk posisi tersebut.
Presiden Korea Selatan Park Geun-hye hadir dalam acara tersebut. Dalam
sambutannya ia mengatakan menghargai ketetapan GGGI untuk memilih Seoul sebagai
kantor pusat dan mengharapkan bisa terus bekerjasama dan saling berkontribusi
dengan GGGI. Presiden Park juga menghargai nominasi yang diberikan pada
Presiden Yudhoyono dan mengharapkan pada waktunya nanti Presiden bisa memimpin
GGGI dan bekerjasama untuk mewujudkan visi dan misi organisasi tersebut.
Sementara itu mantan PM Lars Rasmussen yang hadir dalam pertemuan bertajuk
"Leaders gathering" itu mengatakan rasa terima kasihnya kepada
segenap staf GGGI yang selama beberapa waktu ini telah bekerjasama mencapai
visi dan misi GGGI. Ia berharap Presiden Yudhoyono bisa menggantikan posisinya
dan membuat GGGI bekerja lebih baik lagi.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menerima kedatangan Delegasi global green
growth institute (GGGI) yang dipimpin oleh Dirjen GGGI Yvo de Broer. Pertemuan
berlangsung hangat dan konstruktif di kantor presiden, Jakarta, Selasa (9/9).
GGGI telah menominasikan Presiden SBY untuk nantinya dapat menggantikan Mantan
PM Denmark, Lars Lokke Rasmussen untuk menjadi Presiden di Institusi GGGI
tersebut. Dalam pertemuan itu juga dibahas berbagai persiapan yang akan
dilakukan kedepannya. Diantaranya prosedur untuk menduduki jabatan tersebut
yang diawali dengan nominasi, lalu diikuti dengan pengumuman di New York,
Amerika Serikat. Presiden SBY diharapkan dapat segera berkunjung ke Seoul,
Korea Selatan pada pertengahan bulan November mendatang.Dalam perbincangan
dengan delegasi GGGI tersebut, dibahas pula mengenai agenda pembangunan
Indonesia yang terkait dengan pembangunan di bidang lingkungan hidup. Strategi
pembangunan nasional yang diterapkan oleh pemerintah dibawah kepemimpinan
Presiden SBY adalah pembangunan yang tidak meninggalkan aspek keselamatan
lingkungan hidup.
Prinsip-prinsip pembangunan yang pro-penciptaan lapangan pekerjaan,
pro-pertumbuhan ekonomi, pro-pengurangan kemiskinan, dan pro-lingkungan hidup
adalah strategi dasar kebijakan pembangunan nasional yang selama ini memadukan
antara pembangunan ekonomi dan upaya tetap menjaga kelestarian lingkungan
hidup. Presiden SBY telah menyatakan kesediaannya dinominasikan sebagai
pengganti Mantan PM Denmark Lars Lokke Rasmussen yang merupakan non-state
representatives ke empat yang dipilih oleh GGGI. Bila semua berjalan lancar,
Presiden SBY akan menjadi pemimpin GGGI yang kelima. Dalam memimpin organisasi
internasional ini, Presiden SBY tidak harus berkantor di kota Seoul secara
rutin.
Namun Presiden SBY wajib datang beberapa kali dalam setahun untuk memimpin
sidang dan memperkenalkan misi organisasi serta mencari dukungan internasional
untuk misi yang diembannya. Organisasi internasional ini memiliki dana
operasional sedikitnya 35 Juta US dollar untuk memperjuangkan misi
diantaranya prinsip keberimbangan antara pertumbuhan ekonomi dengan
sustainability lingkungan yang mutlak bagi masa depan seluruh umat manusia di
alam ini. “I did see the wind of change among many leaders. They started
talking about national target, emission cart, national policy, it's good, of
course our mission is not only to assure we work together in dealing with
climate change, but more importantly we are facing new challenge, hot to ensure
that all countries adapt sustainable development policy. We apply green growth
development, and in my terminology, sustainable growth development” Ucap
Presiden SBY.
GGGI banyak mendorong negara-negara berkembang untuk menerapkan pola
kebijakan pembangunan yang ramah lingkungan dan pertumbuhan ekonomi yang bersahabat
dengan kesehatan lingkungan. Dengan prinsip green growth, target pembangunan
ekonomi dapat dicapai seperti pengurangan kemiskinan, penciptaan lapangan kerja
dan inklusivitas sosial. Organisasi ini juga aktif dalam menangani fenomena
perubahan iklim, biodiversity loss serta akses terhadap sumber energi dan air
bersih. Hingga saat ini GGGI memiliki 34 program di 18 negara.
Dirjen GGGI Yvo de Broer menyatakan
bahwa Presiden SBY adalah kandidat terbaik untuk memimpin GGGI yang menghadapi
tantangan berat memperjuangkan prinsip green growth kepada negara-negara
berkembang. “How to lift people out of poverty, but protect the environment,
and create social value at the same time. I cannot think of anybody better to
lead this institution than President Yudhoyono of Indonesia. And I am deeply
honored that he has accepted, that he is willing to be nominated for the role
of the President of GGGI and chairman of the council of GGGI” Ucap Yvo.
Penunjukan Presiden SBY untuk memimpin GGGI ini akan berlaku untuk masa dua
tahun. Pelantikan resminya akan dilaksanakan pada 18 November di Seoul,
Korea Selatan.
Lebih lanjut Yvo memuji pertumbuhan ekonomi yang dicapai oleh Indonesia
dibawah kepemimpinan Presiden SBY, dengan tetap terjaganya kelestarian
lingkungan hidup. Kemampuan leadership Presiden SBY yang menonjol di Asia
diharapkan dapat membantu misi organisasi internasional ini untuk turut
melibatkan para pemimpin dunia merumuskan secara bersama sebuah role model
untuk pertumbuhan ekonomi dan mengentaskan kemiskinan tanpa harus meninggalkan
aspek kelestarian lingkungan.
Delegasi GGGI tersebut terdiri dari empat orang yaitu Dirjen GGGI Yvo de
Boer, Vice minister of national development planning, Lukita Dinansyah Tuwo,
Director of Strategy, Policy and Communication Hyo-Eun Jenny Kim, dan
Representative GGGI di Indonesia, Anna van Paddenburg. Sedangkan Presiden SBY
didampingi oleh Mensesneg Sudi Silalahi, Seskab Dipo Alam, Menlu Marty
Natalegawa, Menteri lingkungan hidup Balthasar Kambuaya, Menteri Perencanaan
Pembangunan Nasional/ Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Armida
Alisyahbana.[4]
GGGI juga memberikan asistensi bagi program kerjasama pemerintah dan swasta
agar berwawasan lingkungan. Organisasi itu memiliki kantor pusat di Seoul,
Korea Selatan dengan wilayah operasi di lima benua dengan 20 negara anggota
organisasi itu antara lain Norwegia, Denmark, Qatar, Tiongkok, Indonesia, serta
sejumlah negara lainnya.(Ant/Gs). [5]
Lembaga yang didirikan oleh mantan Presiden Korsel Lee Myung-bak
ini memiliki kantor di Seoul, Abu Dhabi, Kopenhagen, dan London. Negara-negara
anggotanya adalah Australia, Kamboja, Kosta Rika, Denmark, Ethiopia, Guyana,
Indonesia, Kiribati, Korsel, Meksiko, Mongolia, Norwegia, Papua Nugini,
Paraguay, Filipina, Qatar, Rwanda, Uni Emirat Arab, Inggris, dan Vietnam.[6]
Jaringan GGGI dapat membantu pembentukan think tank pembangunan
hijau di Indonesia (SBY CENTER) karena sumber daya nya yang beragam keilmuan
dan latar belakang termasuk alhi-ali dari region yang jarang ditemukan pada
lembaga riset lainnya, misalnya dari timur tengah (Abu Dhabi).
Kepemimpinan SBY kelak diharapkan dapat meningkatkan
kontribusi GGGI pada Indonesia seperti pembangunan kantor perwakilan tetap
sehingga semakin banyak sumber daya GGGI yang bisa dimanfaatkan. Kesempatan
bagi para peneliti dan para pakar Indonesia untuk bergabung sebagai associates
dan peer reviews sehingga semakin banyak kepentingan Indonesia dapat disuarakan
melalui GGGI. Mendampingi Presiden SBY antara lain Menteri Sekretaris
Negara Sudi Silalahi, Menteri Luar NegeriMarty Natalegawa,Menteri Lingkungan
Hidup Balthasar Kambuaya,Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan
Perencanaan Pembangunan Nasional Armida Alisjahbana, Sekretaris Kabinet Dipo
Alam.[7]
Sementara itu, Dirjen GGGI Yvo de Boer mengungkapkan bahwa SBY
dinilai sebagai orang yang tepat untuk memimpin GGGI. Alasannya, presiden
keenam RI tersebut dinilai mampu mengatasi persoalan lingkungan sekaligus
kemiskinan.(jpnn)[8]
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berpidato
saat terpilih menjadi Ketua Dewan Global Green Growth Institute (GGGI) di
Markas Besar PBB, New York, AS, Selasa (23/9) waktu setempat. Presiden
menyampaikan bagaimana Indonesia telah memiliki pertumbuhan berwawasan
lingkungan sebagai paradigma pembangunan. Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono Selasa (23/9) sore waktu New York atau Rabu (24/9)
dinihari waktu Jakarta bersama PM Norwegia Erna Solberg memimpin pertemuan
plenary 2 yang bertema tentang hutan di ECOSOC Chamber, Markas Besar PBB.
Dalam sidang pararel yang berlangsung pada pukul 15.44 waktu
setempat atau pukul 02.45 WIB tersebut Presiden Yudhoyono membuka persidangan
yang kemudian diikuti oleh paparan dari PM Erna Solberg tentang pandangan
Norwegia tentang pelestarian hutan dan pencegahan kerusakan hutan baik akibat
pertambahan populasi dan juga perkebunan. Dalam sesi yang dipimpin Presiden
Yudhoyono itu sejumlah pembicara yang akan menyampaikan pandangannya antara
lain Presiden Kongo Joseph Kabila, CEO Unilever Paul Polman, CEO Cargil David
Maclenan dan CEO Golden Agry Franky Widjaya.
Sebelumnya, saat menjadi pembicara keempat dalam sidang pararel
bertema National Actions and Ambitition Announcements yang dipimpin oleh Sekjen
PBB Ban Ki-moon di ECOSOC Chamber, Kepala negara menyampaikan mengenai
langkah-langkah yang sudah diambil oleh pemerintah Indonesia dalam partisipasi
untuk menghadapi perubahan iklim melalui kebijakan nasional. ”Pemikiran saya
terdapat dua pendekatan elemen penting dalam kebijakan Indonesia terkait
perubahan iklim masing-masing kerja sama multilateral dan sejumlah aksi di
tingkat nasional yang tepat untuk menghadapi tantangan yang ada," katanya.
Presiden mengatakan dalam kerja sama multilateral, Indonesia
memandang bahwa semua pihak harus meningkatkan effort untuk menghasilkan
kesepakatan yang mengikat terkait kerangka kerja perubahan iklim 2020.
"Saya menggarisbawahi bahwa kesepakatan harus juga mengait dengan
mitigasi, adaptasi dan kerangka kerja untuk implementasi," paparnya. Ia
menambahkan, "kita harus meningkatkan upaya kita agar dapat menghasilkan
perjanjian mengenai perubahan iklim di Paris tahun depan."
Indonesia sendiri, menurut Yudhoyono, memiliki sejumlah strategi
untuk menghadapi tantangan perubahan iklim.
1.
Secara
sukarela menetapkan pengurangan emisi gas rumah kaca 26 persen pada 2020.
Dimana target itu bisa meningkat menjadi 41 persen dengan dukungan
internasional," tegasnya.
2.
Langkah
kedua yang diambil Indonesia adalah mengurangi emisi dan meningkatkan
kesejahteraan masyarakat di sekitar hutan.
3.
"Ketiga
kami terus mengeksplorasi potensi blue carbon ekosistem yang bisa membantu
upaya global untuk menahan kenaikan suhu bumi rata-rata dua derajat," kata
Presiden.
4.
Sementara
langkah keempat Indonesia adalah telah menandatangani amandemen Doha untuk
Kyoto Protocol.
KTT Iklim sendiri ditujukan untuk
melibatkan para pemimpin dunia dalam memajukan aksi-aksi dan ambisi terkait isu
iklim. Pada pembukaan KTT Iklim di Plennary Hall, diisi dengan sambutan Sekjen
PBB Ban Ki-moon, Wali kota New York Bill de Blasio, Ketua IFCC Rajendra
Pachauri, al Gore, Li Bingbing, Leonardo de Caprio selaku utusan khusus PBB
untuk perdamaian serta aktivis Kathy Jetnit-Kijiner.[9]
Belum lama ini Institut Global Green
Growth (GGGI) dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah, bersama dengan
kabupaten percontohan yaitu Kabupaten Murung Raya dan Pulang Pisau telah
meluncurkan program terobosan dalam mendukung pertumbuhan hijau regional.
Peluncuran program baru ini berlangsung pada pertengahan tahun pertama GGGI
tentang kemitraan dengan Kementerian Perencanaan dan Pembangunan Nasional
(BAPPENAS) Republik Indonesia. Pada peluncuran yang berlangsung di Kota
Palangkaraya yang berjudul "Peluncuran Workshop Kerjasama Green
Growth" dihadiri oleh wakil-wakil dari Pemerintah Pusat, Pemerintah
Provinsi, SKPD, dan terutama dari Pemerintah Kabupaten Murung Raya dan Pulang
Pisau. Sektor swasta juga ikut berpartisipasi yang diwakili oleh perusahaan
multinasional dan perusahaan besar di Indonesia, Peserta lain termasuk LSM
lingkungan dan sosial serta akademisi dari Universitas Palangkaraya.
Pada acara peluncuran ini, GGGI
menekankan bahwa terdapat relevansi antara pertumbuhan hijau regional dengan
agenda pembangunan daerah kerja saat ini dalam proses, termasuk di dalamnya
adalah : Memperluas fungsi database "indikator pertumbuhan hijau",
yang relevan dengan perencanaan pembangunan jangka menengah dan panjang di
provinsi dan kabupaten. Sebuah alat yang menilai kerangka pertumbuhan hijau
yang memfasilitasi optimalisasi ekonomi hijau hasil dari proyek-proyek sektor
publik dan swasta. Peran REDD+ dalam mempercepat pertumbuhan hijau regional,
khususnya melalui pendekatan yurisdiksi di tingkat kabupaten/kota. GGGI dan
Pemprov Kalimantan Tengah juga menegaskan komitmen bersama untuk mengembangkan
dokumentasi tentang visi pertumbuhan hijau untuk provinsi dengan cara mengintegrasikan
kebijakan, inisiatif dan kegiatan masa lalu dan berkelanjutan di bawah kerangka
kerja yang terpadu. Dokumen ini juga dapat membantu untuk meningkatkan
kesadaran mengenai "peluang atau potensi pertumbuhan hijau" di
tingkat kabupaten dan sangat penting jika inisiatif pertumbuhan hijau
berlangsung dalam jangka panjang dan memiliki dampak yang berarti.
Pada pidato pembukaan Gubernur
Kalimantan Tengah A. Teras Narang yang disampaikan oleh Tom Brigong Munandas
selaku Staf Ahli Gubernur bidang Pembangunan Ekonomi, disampaikan agar
"Semua pemangku kepentingan di daerah untuk bekerja sama dengan Pemerintah
Provinsi, BAPPENAS dan GGGI di dalam proses perencanaan pembangunan hijau,
menekankan prioritas, meningkatkan kualitas hidup dan keadilan sosial masyarakat
Kalimantan Tengah, sekaligus mengurangi risiko kerusakan lingkungan, dan
meningkatkan penggunaan teknologi hijau dan mempromosikan lingkungan dan
investasi sosial yang bertanggung jawab.
Provinsi Kalimantan Tengah memiliki
sejarah yang singkat namun signifikan dalam pelaksanaan pertumbuhan hijau dan
pembangunan rendah karbon. GGGI Indonesia Country Representative, Anna van
Paddenburg mencatat bahwa pertumbuhan hijau merupakan sesuatu yang baru di
provinsi di Indonesia. Namun, GGGI dan pemerintah menyadari perlunya
dokumentasi mengenai kesamaan visi yang menyatukan kegiatan para pemangku
kepentingan dalam bentuk kerangka umum. Kami berharap lima dimensi pertumbuhan
hijau yang dipromosikan melalui Program pertumbuhan Hijau (GGGI) dengan
BAPPENAS dapat diterapkan dalam Visi Green Growth ini dan dapat mengendalikan
investasi pada sektor pertumbuhan hijau.[10]
Daftar Pustaka
Saturi,
Sapariah. “Bappenas-GGGI Berupaya “Hijaukan” Konsep MP3EI “ . 18 Juni
2013. http://readersblog.mongabay.co.id/
Rivki. “Presiden SBY Jadi Kandidat Ketua Global Green Growth
Institute “. 09 September 2014. http://www.detiknews.com.
“Presiden SBY:
Tugas Baru Saya Mengurus Bumi”. Selasa, 09 September 2014.
http://www.jpnn.com/read/2014/09/09/
Beritalima." Presiden SBY Menerima Delegasi Global Green
Growth Institute (GGGI)". Rabu, 10 september 2014. http://www.wartamalut.com/
HUMAS. “
Presiden: Kekerasan Libatkan Isu Agama Harus Diakhiri “. 27 september 2014.
http://www.menkokesra.go.id/
“Pensiun jadi Presiden RI, SBY Dapat Tawaran jadi Presiden GGGI”.
http://suaraberitanusantara.blogspot.com/
Ddesk informasi. " Presiden SBY: Saya Ada Tugas Baru Mengurus
Bumi ".Selasa, 09 September 2014 - 14:47 WIB. http://old.setkab.go.id/apresiasi-ri.html
Riau pos. " SBY Dipinang Jadi Presiden GGGI ". 10
September 2014 - 07.23 WIB. http://www.riaupos.co/
"Presiden SBY pimpin sidang pararel KTT Iklim bidang kehutanan".24
September 2014 - 15:27:10. http://alumniipb.org/. Editor: B Kunto Wibisono. Sumber: antaranews.com
"GGGI LUNCURKAN PROGRAM PERTUMBUHAN HIJAU BERSAMA PEMPROV
KALIMANTAN TENGAH". Senin, 16 Desember 2013 11:31 . http://www.sapa.or.id/
[1] Saturi,
Sapariah. “Bappenas-GGGI Berupaya “Hijaukan” Konsep
MP3EI “ . 18 Juni 2013. http://readersblog.mongabay.co.id/
[2] Rivki. “Presiden SBY Jadi Kandidat Ketua Global Green Growth Institute “. 09
September 2014. http://www.detiknews.com.
[3] “Presiden SBY: Tugas
Baru Saya Mengurus Bumi”. Selasa, 09 September 2014. http://www.jpnn.com/read/2014/09/09/
[4] Beritalima."
Presiden SBY Menerima Delegasi Global Green Growth Institute (GGGI)".
Rabu, 10 september 2014. http://www.wartamalut.com/
[5] HUMAS. “
Presiden: Kekerasan Libatkan Isu Agama Harus
Diakhiri “. 27 september 2014. http://www.menkokesra.go.id/
[6] “Pensiun
jadi Presiden RI, SBY Dapat Tawaran jadi Presiden GGGI”. http://suaraberitanusantara.blogspot.com/
[7] Ddesk
informasi. " Presiden SBY: Saya Ada Tugas Baru Mengurus Bumi
".Selasa, 09 September 2014 - 14:47 WIB. http://old.setkab.go.id/apresiasi-ri.html
[8] Riau pos.
" SBY Dipinang Jadi Presiden GGGI ". 10 September 2014 - 07.23 WIB. http://www.riaupos.co/
[9]
"Presiden SBY pimpin sidang pararel KTT
Iklim bidang kehutanan".24 September 2014 - 15:27:10. http://alumniipb.org/. Editor: B Kunto Wibisono. Sumber: antaranews.com
[10]
"GGGI LUNCURKAN PROGRAM PERTUMBUHAN HIJAU
BERSAMA PEMPROV KALIMANTAN TENGAH". Senin, 16 Desember 2013 11:31 . http://www.sapa.or.id/
1 komentar:
If you're looking to lose weight then you absolutely have to start using this totally brand new tailor-made keto diet.
To create this keto diet service, certified nutritionists, fitness trainers, and professional chefs united to develop keto meal plans that are productive, suitable, cost-efficient, and delightful.
Since their launch in January 2019, 100's of people have already transformed their figure and well-being with the benefits a smart keto diet can give.
Speaking of benefits; clicking this link, you'll discover 8 scientifically-proven ones given by the keto diet.
Posting Komentar