A.
Pendahuluan
Dari blueprint dan jadwal strategis
pencapaian MEA di Singapura pada 20 November 2007. Dokumen tersebut berisi
komitmen negara anggota atas keseriusan pencapaian MEA dimana evaluasi
pencapaian MEA akan dilakukan melalui serangkaian indikator kinerja yang
disepakati dan umumkan ke masyarakat luas.[1]
Pada tahun 2015 mendatang, Indonesia
bersama dengan kesembilan negara ASEAN lainnya telah menyepakati
perjanjian Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) atau ASEAN Economic Community
(AEC). Tepatnya pada 1 Januari 2015, ke-10 bangsa di Asia Tenggara ini
akan menjadi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Ini merupakan kesepakatan yang
mengikat. Artinya, anggota ASEAN terikat pada ketentuan yang telah dipersiapkan
dan dibahas oleh para pemimpin bangsa di Asia Tenggara bertahun-tahun
sebelumnya itu. Mereka tidak bisa lagi memunda ataupun menghindar. Itu
merupakan point of
no return. Maka, negara-negara yang bergabung dalam ASEAN ini
mereka mau tidak mau harus siap menghadapi MEA yang tidak lama lagi akan
dilaksanakan.[2]
Dengan adanya komitmen tersebut,
Indonesia juga harus berupaya mencapainya guna menjaga kredibilitas nasional.
Pertanyaan yang mengemuka selanjutnya adalah: Bagaimana kesiapan Indonesia
dalam menghadapi integrasi ekonomi regional di tahun 2015 tersebut? Apakah
langkah tersebut menguntungkan bagi Indonesia? Apakah Indonesia bisa
mendapatkan manfaat dari perluasan pasar dan basis produksi ini atau hanya akan
menjadi penonton? Di sektor manakah keunggulan ekspor Indonesia? Apa diperlukan
lagi liberalisasi lebih lanjut di aliran modal oleh Indonesia (padahal fluktuasi nilai tukar rupiah saja
sekarang ini sudah cukup memusingkan)? Bagiamana dengan kesiapan perbankan dan
pasar keuangan? Dan seterusnya.
B.
Pembahasan
Awal 2015, tepatnya pada 1 Januari
2015, ke-10 bangsa di Asia Tenggara ini akan menjadi Masyarakat Ekonomi ASEAN
(MEA). Ini merupakan kesepakatan yang mengikat. Artinya, anggota ASEAN terikat
pada ketentuan yang telah dipersiapkan dan dibahas oleh para pemimpin bangsa di
Asia Tenggara bertahun-tahun sebelumnya itu. Implikasi dari pemberlakuan MEA
tersebut adalah produk barang atau jasa yang diproduksi di mana pun di seluruh
wilayah ASEAN boleh dialirkan atau pun dipasarkan ke seluruh wilayah anggota
perserikatan bangsa-bangsa di Asia Tenggara itu tanpa bea masuk seperti selama
ini.[3]
MEA kian marak dibincangkan
akhir-akhir ini seiring dengan berbagai persipan yang dilkakukan pemerintah
untuk menyongsong pelaksanaanya 2015 mendatang. MEA adalah alah satu keputusan
dari declaration of ASEAN concord II yang di selenggarkan di Bali pada 7
Oktober 2003. Ini dilakukan sebagai realisasi dari keinginan para pemimpin
Negara ASEAN pada KTT ASEAN di Kuala Lumpur Desember 1997 yang memutuskan untuk
mentransfirmasikan ASEAN menjadi kawasan yang stabil, makmur dan berdaya saing
tinggi dengan tingka pembangunan ekonomi yang merata serta kesenjangan sosial
ekonomi dan kemiskinan yang semakin berkurang.[4]
Seluruh Negara Anggota ASEAN sepakat untuk segera
mewujudkan integrasi ekonomi yang lebih nyata dan meaningful yaitu ASEAN
Economy Community (AEC). AEC adalah bentuk Integrasi Ekonomi ASEAN yang
direncanakan akan tercapai pada tahun 2015. Untuk mewujudkan AEC tersebut, para
Pempimpin Negara ASEAN pada KTT ASEAN ke-13 pada bulan Nopember 2007, di
Singapura, menyepakati AEC Blueprint sebagi acuan seluruh negara anggota dalam
mengimpletasikan komitmen AEC. Pada tahun 2015, apabila AEC tercapai, maka
ASEAN akan menjadi pasar tunggal dan berbasis produksi tunggal dimana terjadi
arus barang, jasa, investasi, dan tenaga terampil yang bebas, serta arus modal
yang lebih bebas diantara Negara ASEAN. Dengan terbentuknya pasar tunggal yang
bebas tersebut maka akan terbuka peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan
pangsa pasarnya di kawasan ASEAN. [5]
Tetapi, Indonesia saat ini memiliki posisi meragukan
di ASEAN (Tidak baik dan tidak buruk). Untuk menjadi Pemain Utama dalam
Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 Indonesia tidak boleh berdiam diri atau
mengalami stagnasi dalam upaya untuk meningkatkan kondisi ekonominya saat ini.
Jika kita lihat dari neraca perdagangan, Defisit
perdagangan Indonesia dengan Asean pada tahun 2013 terus membesar, padahal
Surplus neraca perdagangan sempat dirasakan pada tahun 2011. Penyebabnya adalah
defisit perdagangan dengan Thailand yang besar, sehingga dari negara-negara
ASEAN yang lain tidak mampu menutupnya. Data Badan Pusat Statistik (BPS)
menunjukkan, Indonesia menderita defisit sebesar US$ 527,5 juta pada
Januari-November 2013, naik 21,9% dari periode sama 2012. Pada Januari-november
2013, Indonesia meraup surplus perdagangan dengan negara ASEAN diluar Thailand
sebesar US$ 4,6 miliar. Namun, defisit neraca perdagangan Indonesia dengan
Thailand mencapai US$ 5,13 miliar, sehingga terjadi defisit US$ 527,5 juta pada
neraca perdagangan.
Sedangkan seperti yang kita ketahui menurut Menurut data
yang dilansir oleh World Economic Forum (WEF) dalam The Global
Competitiveness Report 2013-2014 peringkat daya saing Indonesia menempati
peringkat kelima di ASEAN dimana Empat negara yang berada di atas
Indonesia ditempati oleh Singapura (2), Malaysia (24), Brunei Darussalam (26)
dan Thailand (37). Singkatnya dari ke 12 Pilar yang merupakan indikator dari
pengukuran tingkat daya saing tersebut, pilar ke-10 (ukuran pasar) memiliki
peringkat terbaik yaitu memiliki peringkat 15, dan pilar ke-7 (efisiensi pasar
tenaga kerja) memiliki peringkat terendah yaitu memiliki peringkat 103 dari 148
Negara. Sehingga untuk menjadi Pemain Utama dalam masyarakat Ekonomi ASEAN
(MEA) 2015 Indonesia harus berupaya untuk memperbaik kondisi perekonominya,
seperti berupaya memperbaiki ke-12 pilar daya saing ekonomi khususnya efisiensi
tenaga kerja sehingga bisa mengurangi ketergantungan mengimpor barang terhadap
negara asing.[6]
Menurut Direktur Eksekutif Center of Reform on
Economics (CORE) Hendri Saparini, kesiapan Indonesia dalam menghadapi MEA 2015
baru mencapai 82%. Hal itu diengarai dari empat isu penting yang perlu segera
di antisipasi pemerintah dalam menghadapi MEA 2015 yaitu: (1) Indonesia
berpotensi sekedar pemasok energi dan bahan baku industrilassasi di kawasan
ASEAN, sehingga manfaat yang di peroleh dari kekayaan sumber daya minimal,
tetapi defisi neraca perdagangan barang Indonesia yang saat ini paling besar di
antara negara-negara ASEAN semakin bertambah, (2) melebarkan defisit
perdagangan jasa seiring peningkatan perdagangan barang, (3) membebaskan aliran
tenaga kerja sehingga Indonesia harus mengantisipasi dengan menyiapkan strategi
karena potensi membanjirnya tenaga kerja asing, dan (4) masuknya investasi ke
Indonesia dari dalam dan luar ASEAN.[7]
Kita harus mengakui MEA merupakan
salah satu jalan lahir tumbuh berkembangnya budaya homo economi lupus, dimana
yang kuat memangsa yang lemah. Bayangkan negara ASEAN adalah negara yang
majemuk dari segi kemjuannya. Data perekonomian Negara-negara ASEAN tahun 2010
yang diukur dari besarnya GDP perkapita menunjukkan gap yang begitu besar
antara the
highest dengan the lowest. Dimana Singapura
memiliki pendapatan perkapita sebesar US$ 53.180 sedangkan Nyanmar
sebagai juru kunci hanya memiliki pendpatan perkapita sebesar US$ 468,6.
Pendapatan penduduk Nyanmar tidak mencapai 1% pendapatan penduduk Singapura.
Akankah negara seperti Nyanamr, Laos ($ 886) tersebut hanya akan menjadi
bulan-bulanan Singapura dalam pentas masyarakat ekonomi ASEAN? Lalu apa kabar
dengan negeri tercinta? Aman? GDP Indonesia mencapai US$3.010,1 (US$3.542,9 di
2011), hanya 5,66 % dari Singapura. Namun perlu juga diingat, bahwa di ASEAN
Indonesia menyumbang 40 % pasar bagi barang dan jasa yang diperdagangkan.
Namun, tinta hitam tandatangan para
“pembesar” telah tertulis. Bali pada tahun 2003 lalu telah menjadi saksi tekat
para kepala negara ASEAN mempercepat terbentuknya MEA di tahun 2015. Pena
takdir telah diangkat, tinta abadi takdir Allah pun telah mengering, bahwa MEA
memang keniscayaan yang harus ditempuh oleh Indonesia sebagai anggota. Tidak
semua rintangan, lebih kepada tantangan yang harus menjadi triger memajukan
dan meraih tujuan bersama yang telah termaktub dalam blue
print MEA 2015. Lalu sebatas apa Indonesia siap?
Dampak utama MEA adalah semakin
terjadinya liberalisasi ekonomi dikawasan ASEAN. Blue Print MEA 2015 memberikan
panduan bahwa akan terjadi arus bebas ekonomi setidaknya dari beberapa hal;
barang, jasa, investasi, modal dan yang terpenting dalam pembahasan ini adalah skilled
labor (tenaga kerja terdidik). Bila tidak bersiap tentu 40% “kue
ekonomi” ASEAN di Indonesia akan “dicaplok” negara-negara tetangga.
Skilled
Labor adalah faktor penting dalam
menghadapi MEA 2015. Bila boleh dikatakan, maka barang, jasa, investasi, dan
modal semua dikendalikan oleh skilled labor. Karena itu tenaga
kerja (SDM) yang mempuni mutlak dibutuhkan untuk “memenangkan” tujuan Indonesia
dalam MEA. Sekarang seberapa siap SDM indonesia?
Jikalau kita jadikan GDP sebagai
tolak ukur atas kualitas skilled labor Indonesia dalam
mengendalikan barang, jasa, dan modal maka dapat kita katakan bahwa kualitas skilled
labor Indonesia masih jauh dibawah tiga negara penghuni kasta
teratas yaitu Singapura, Malysia dan Thailand. Inilah kenyataan yang kita
dapati saat ini. Ini adalah kontribusi skilled labor Indonesia secara
agregat.[8]
Misalkan, ketika pabrik-pabrik berdiri
di Indonesia, entah secara temporer atau permanen, pengangguran di Indonesia
yang berkontribusi terbesar atau 60% dari total pengangguran di wilayah ASEAN
hanya dapat menempati posisi sebagai buruh kontrak atau outsourcing. Ini
merupakan sebuah ironi, ketika pemimpin negara dan pembuat kebijakan ekonomi
menyambut MEA dengan tangan terbuka, ada berbagai aspek yang belum dipersiapkan
secara matang seperti pasar bebas tenaga kerja yang akhirnya menempatkan
Indonesia sebagai negara peng-hasil buruh terbesar di ASEAN, bukan sebagai
negara penghasil tenaga kerja yang memiliki skill serta dapat bersaing dengan
pekerja migran asal negara lainnya. Kondisi ini bukan hanya menimpa tenaga
kerja yang ada di Indonesia, tapi juga tenaga kerja di Malaysia yang kini bernasib
sama seperti buruh, bahkan diperlakukan dengan martabat yang lebih rendah dari
pembantu rumah tangga. Hal ini disadari karena kurangnya skill dan
profesionalitas tenaga kerja Indonesia jauh tertinggal dibandingkan dengan
teknisi-teknisi Korea dan China yang bekerja di Indonesia.
Selanjutnya adalah dalam bidang
perbankan saat ini, jajaran eksekutif masih didominasi oleh expatriat atau
pekerja asing. Bukan hanya di dalam industri perbankan saja, namun dalam
Industri teknologi, pengangguran yang terserap oleh lapangan kerja masih
sebatas pada buruh kontrak yang dibatasi waktunya selama 1-2 tahun. Bahkan yang
menarik adalah penelitian penulis ketika mengunjungi proyek Pembangkit Listrik
baru di Tuban, kontraktor asal China bukan saja menempati posisi project
planner tapi juga menempati hampir 90% posisi yang tersedia
termasuk teknisi lapangan. Sehingga tenaga kerja Indonesia hanya ditempatkan
sebagai security
saja. Mengapa hal ini dapat terjadi? Sistem tenaga kerja saat ini belum
berpihak terhadap tenaga kerja di Indonesia yang jumlahnya melimpah namun tidak
dilindungi dari pekerja-pekerja imigran. Selain itu dorongan dari pemerintah
untuk mendirikan balai pelatihan tenaga kerja bagi buruh dan tenaga kerja tanpa
skill dianggap bukan hal yang penting. Sehingga jenjang karir buruh sampai
kapanpun tetap menjadi buruh, naikpun hanya sebagai mandor proyek.
Jabatan-jabatan penting dan strategis masih didominasi pekerja asing dan hal
ini dapat meningkat seiring diterapkannya MEA.
MEA merupakan suatu gagasan yang sangat
baik dalam mendorong terciptanya regionalism development di kawasan
ASEAN. Namun beberapa tantangan seperti lapangan tenaga kerja yang ada di
Indonesia hanya akan menaikkan angka pengangguran itu sendiri, karena tidak
berdampak pada peningkatan taraf hidup masyarakat indonesia, khususnya buruh
yang tidak memiliki sertifikasi pendidikan seperti buruh-buruh yang di
datangkan dari China, bahkan Vietnam yang tidak lebih baik tingkat
kesejahteraan pekerjanya dari Indonesia. Akibatnya secara struktural MEA yang
tidak dipersiapkan secara matang justru akan menjadi tantangan berat bagi
pengambil kebijakan maupun bagi tenaga kerja di Indonesia. Pada akhirnya
lowongan tenaga kerja yang tersedia hanyalah buruh kontrak tanpa kejelasan
jenjang karir dan jaminan sosial.
Ketua Aliansi Rakyat Merdeka yang
juga mantan Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja
Indonesia (BNP2TKI) Jumhur Hidayat menilai, pemerintah telah gagal dalam
negoisasi liberalisasi ketenagakerjaan dalam Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).
Kegagalan tersebut karena dalam kesepakatan MEA hanya orang atau pekerja yang
sangat ahli saja yang boleh bekerja di lintas negara-negara Asean. “Saya
katakan Pemerintah telah gagal dalam negosiasi liberalisasi ketenagakerjaan.
Karena yang boleh bekerja di negara-negara Asean hanya pekerja yang sangat
ahli,” ujar Jumhur Hidayat dikutip Minggu (8/7/2014). Jumhur menjelaskan,
kelemahan tenaga kerja Indonesia saat ini adalah mengenai soft skill yaitu
masalah bahasa. Karena itu, tenaga kerja Indonesia dianggap tidak mampu
menjalin komunikasi yang baik dengan kehidupan global oleh negara atau
perusahan-perusahaan asing. Tugas pemerintah, menurut Jumhur, seharusnya
memperjuangkan para pekerja Indonesia agar tidak tergerus arus masuknya pekerja
asing ke Indonesia setelah MEA diterapkan tahun 2015. Jumhur mengingatkan, para
pekerja dari negara Asean lain masuk dan akan bersaing mendapatkan pekerjaan di
Indonesia.[9]
C.
Hipotesis
dan Kesimpulan
Maka dilihat dari fakta diatas, MEA
hanya akan menguntungkan bagi negara maju dan negara berkembang, seperti
Indonesia hanya akan di manfaatkan oleh negera tersebut, liberalisasi ekonomi
yang timbul hanya akan menambah kesengsaraan bagi rakyat kecil, karena esensi
dari liberalisai adalah semakin tertindasnya yang bermodal kecil dan semakin
makmur oleh pihak yang bermodal besar, hal ini tidak cocok untuk Indonesia
karena bekal untuk bersaing dalam perdagangan bebas dengan negara-negara yang
bergabung dengan ASEAN Indonesia masih tertinggal jauh, dari SDM yang ada.
Kemungkinan yang paling buruk adalah makin banyaknya SDM dari luar negeri yang
masuk serta percampuran modal maka secara perlahan sumber daya yang dimiliki
Indonesia akan dikuasai oleh mereka dan Indonesia hanya akan mendapatkan
beberapa persen dari keuntungan yang didapat, hal ini merupakan penjajahan
secara halus, Negarawan AS. Henrty clay menyatakan, “ Sebagaimana kita,
bangsa-bangsa lain tahu, apa yang kita maksud dengan “perdagangan bebas” tidak
lebih dan tidak kurang dari keuntungn besar yang kita nikati untuk mendapatkan
monopoli dalam segala pasar produksi kita, dan
mencegah mereka agar tidak menjadi negara produsen “( Mitos-mitos Palsu Ciptaan
Barat, Adnan Khan hal 71)”.[10] Jadi,
jelaslah bahwa pasar bebas adalah tujuan utama barat untuk mengeruk keuntungan
yang sebesar-besarnya di kawasan ASEAN.
Daftar Pustaka
Khan, Adnan. “Mitos-mitos Palsu
Ciptaan Barat, Adnan Khan”. Hal 71
Dr.
Estyningtias P. “ Masyarakat Ekonomi ASEAN, Ancaman atau Tantangan ?”. Selasa 16 Jamadilawal 1435 / 18 Maret 2014
Alwafi, Rafdy.
“Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015, Menjadi Pemain Utama atau
Partisipan “. http://ekonomi.kompasiana.com/bisnis/2014/07/02/
Wangke,
Humphrey. “ Peluang Indonesia dalam Masyarkat Ekonomi ASAN 2015”. Info
Singkat Hubungan Internasional Vol. VI, No. 10/II/P3DI/Mei/2014.
http://berkas.dpr.go.id/
Wahyu
Jatmiko dan Azizon(mahasiswa Manajemen dan Ilmu Ekonomi FEUI. “ Sarjana Ekonomi Indonesia, Belum Siap”. 15
Juli 2013. http://indomea.wordpress.com/
Jumhur, “
Pemerintah Gagal Negosiasi Liberalisasi MEA”. 8 Juni 2014.
http://moneter.co/jumhur-pemerintah-gagal-negosiasi-liberalisasi-mea/
Doddy Saputra.” Apa itu Masyarakat
Ekonomi ASEAN (MEA)?”. 1 Maret 2014. http://www.marketing.co.id/apa-itu-masyarakat-ekonomi-asean-mea/
BI.” Masyarakat
Ekonomi Asean (MEA) 2015, Memperkuat Sinergi ASEAN di tengah Kompetisi Global”.
Jakarta 2008. http://books.google.co.id
Djauhar, Ahmad.
“MEA...Mahluk Apakah Itu?. Senin, 11 Februari 2013. http://www.solopos.com/2013/02/11/mea-makhluk-apakah-itu-377862
http://www.solopos.com
[1]
http://books.google.co.id
[2]
http://www.marketing.co.id/apa-itu-masyarakat-ekonomi-asean-mea/
[3]
http://www.solopos.com/2013/02/11/mea-makhluk-apakah-itu-377862
[4]
Dr. Estyningtias P. “ Masyarakat Ekonomi ASEAN, Ancaman atau Tantangan?”. Selasa 16 Jamadilawal 1435 / 18 Maret 2014
[5]
Departeman perdagangan Republik Indonesia.
http://ditjenkpi.kemendag.go.id/website_kpi/Umum/Setditjen/BukuMenujuASEANECONOMICCOMMUNITY2015.pdf
[6] alwafi, Rafdy. “Menghadapi Masyarakat Ekonomi
ASEAN 2015, Menjadi Pemain Utama atau Partisipan “.
http://ekonomi.kompasiana.com/bisnis/2014/07/02/
[7]
Wangke, Humphrey. “ Peluang Indonesia dalam Masyarkat Ekonomi ASAN
2015”. Info Singkat Hubungan Internasional Vol. VI, No.
10/II/P3DI/Mei/2014. http://berkas.dpr.go.id/pengkajian/files/info_singkat/Info%20Singkat-VI-10-II-P3DI-April-2014-4.pdf
[8]
Wahyu Jatmiko
dan Azizon(mahasiswa Manajemen dan Ilmu Ekonomi FEUI. “ Sarjana Ekonomi Indonesia, Belum Siap”. 15 Juli 2013.
http://indomea.wordpress.com/
[9] Jumhur,
“ Pemerintah Gagal Negosiasi Liberalisasi MEA”. 8 Juni 2014.
http://moneter.co/jumhur-pemerintah-gagal-negosiasi-liberalisasi-mea/
[10] Khan,
Adnan. “Mitos-mitos Palsu Ciptaan Barat,
Adnan Khan”. Hal 71
1 komentar:
sundul77.com Situs Agen Bola Terbaik | Judi Casino Online | poker uang asli | Bandar Slot Terpercaya
sundul77.com Adalah Situs Agen Bola Terbaik | Judi Casino Online | poker uang asli | Bandar Slot Terpercaya, Game Slot Mesin, Agen Sbobet, Agen Ibcbet, Agen Mansion88 sundul77 Merupakan Salah Satu Bandar Bola, Bandar Casino, Poker Online Terpercaya IDNSPORT. Kelebihan Bandar Bola Terbesar www.sundul77.com Desain Website Menarik, Live Casino Online 24 Jam Non-Stop Bersama Dealer Eropa & Dealer Asia..
Situs Agen Bola Terbaik | Judi Casino Online | poker uang asli | Bandar Slot Terpercaya, Game Slot Mesin, Agen Sbobet, Agen Ibcbet, Agen Mansion88
Bolagaming mempunyai tim berpengalaman dalam melayani setiap member yang bergabung di situs judi taruhan bola terbaik ini. Kami menyediakan customer service online 24 jam yang akan menemani anda dan membantu memberikan arahan kepada anda agar mudah saat melakukan pendaftaran. Anda bisa memilih jenis permainan judi taruhan online apa saja sesuai keinginan anda.
Ayo Bergabung Bersama Situs Judi Taruan Bola Terlengkap Bolagaming
situs agen bola terbaik,judi casino online,poker uang asli,poker uang asli,agen ibcbet
Posting Komentar