A.
Pendahuluan
Gambaran
Umum Perekonomian Indonesia Disajikan dalamperspektif sejarah yaitu secara
kronologis-history. Tahapan perkembangan :
-
Masa sebelum terjajah ( < tahun 1600 )
-
Masa penjajahan ( tahun 1600 - 1945 )
-
Masa sebelum 1966/ Orde Lama ( tahun 1945 -
1966 )
-
Masa sesudah 1966 ( era Orde Baru )
B. Pembahasan
1. ERA ORDE
LAMA ( 1945 - 1966 )
Masa
Pemerintahan Indonesia Orde lama (Masa Revolusi) 23 tahun yaitu dari tahun 1945-1968 dibawah
kepemimpinan sang proklamator Presiden Sukarno. Adanya blokade ekonomi oleh
Belanda sejak bulan November 1945 untuk menutup pintu perdagangan luar negri
RI. Kas negara kosong, Eksploitasi besar-besaran di masa penjajahan.[1] Soekarno
lebih memfokuskan pada aspek politik serta pertumbuhan bangsa melalui adanya
pembinaan persamaan dan watak bangsa dengan mengabaikan permasalahan ekonomi. Perekonomian
berkembang kurang menggembirakan: Kehidupan politik tidak stabil ( pergantian
kabinet ), Defisit anggaran belanja negara terus meningkat (cetak uangbaru >
inflasi - sejak 1955), Nasionalisasi perusahaan asing - 1951 / 1958 ( UU No 78
/1958 tentang Investasi Asing > tutupnya Bursa Efek Jakarta > pelarian
kapital), Hilangnya pangsa pasar ( gula, karet alam dll ) dalam
perdaganganinternasional ( ekspor < 10% PDB > neraca pembayaran tertekan
> depresiasirupiah ), Ketidak-mampuan memenuhi kewajiban utang LN ( >US $
2milyar), Penerimaan ekspor hanya setengah dari pengeluaran impor, Ketidak-berdayaan
mengendalikan anggaran belanja dan memungutpajak.
-
Pertumbuhan
Ekonomi Indonesia (1951-1957),
(1951=100) % Perubahan Tahun
Indeks
|
Tahun
|
Perubahan indeks
|
Tahun
|
Perubahan indeks
|
|
1951
1952
1953
1954
1955
1956
1957
1958
|
100,0-
103,8-3,8
126,8-22,1
128,6-1,4
133,4-3,7
136,4-2,2
144,4-5,8
152,0-5,3
|
1959
1960
1961
1962
1963
1964
1965
1966
|
149,1 -1,9
146,8 -1,5
149,4-1,7
145,3 -2,7
141,4 -2,7
144,7-2,4
145,5-0,5
146,4-0,6
|
*)1951-1957 diukur dengan Pendapatan Nasional Bruto dan 1958-1966
diukur dengan Produk Domestik Bruto. Sumber (Tulus Tambunan: 2006, 19)[2]
- Pertumbuhan PDB Indonesia, 1965-1996 (%
y-o-y)[3]
Sumber : BPS
2. ERA ORDE
BARU (1966-1998)
Orde baru
yang dipimpin oleh Soeharto, Ia lebih memfokuskan untuk memperbaiki tatanan
ekonomi di Indonesia, sehingga muncul pula slogan “Ekonomi sebagai Panglima”
sebagai dukungan untuk gerakan Soeharto dalam membenahi perekonomian Indonesia
(Mas’oed, 1989:64). Aksi pemerintah orde lama yang anti terhadap bantuan asing
menjadikan pemerintah asing dan bisnis luar negeri sangat berhati-hati dalam
memberikan kredit baru kepada orde baru tersebut (Mas’oed, 1989:114). Untuk
menarik hati para pihak asing untuk membantu Indonesia, maka pemerintah
diharuskan membuka kembali ekonomi terhadap penetrasi modal asing dan
mengintegrasikannya dengan sistem ekonomi dunia, yakni sistem kapitalis
(Mas’oed, 1989:71).[4]
Program
ekonomi ORde Baru : Tahap penyelamatan (juli-desember 1966), Tahap rehabilitasi
(januari-juni 1967), Tahap konsolidasi (juli-desember 1967), Tahap stabilisasi
(januari-juni 1968).
Repelita
I (1969-74) : prioritas adalah stabilitas ekonomi.Pelita II (1974-79):
prioritas adalah pertumbuhan ekonomi. Pelita III-Vi: pemerataan, Kinerja
perekonomian dalam Pelita I-II cukup memuaskan: Pertumbuhan ekonomi 7%
pertahun, Pertumbuhan ekonomi 11% jadi 24% terhadap PDB, Tabungan pemerintah
meningkat. Penerimaan devisa meningkat (migas -80%),
Tahun
1970-an perekonomian Indonesia mengalami gangguan : Harga minyak dunia turun
dan kuota produksi minyak, Ekspor neto turun 38% dan ekspor nonmigas turun 30%
sedangkanimpor nonmigas meningkat, Neraca berjalan defisit US$2,7milyar (1981)
dan US$6,7milyar(1982), Pertumbuhan ekonomi 2,24% (1982)
Pelita
IV : kebijakan dregulasi dan debirokratisasi. PelitaV Perekonomian Indonesia
membaik engan pertumbuhan 6,7%/tahun. Selama PJP I : pertumbuhan ekonomi
sebesar 6,7%/tahun,pendapatan perkapita naik dari US$70 (1969) jadi US$770
(1993), pendudukmiskin turun dari 70 juta orang (60%) jadi 25,9 juta orang
(13,7%).[5]
Stabilitas
politik dan ekonomi. Pemerintahan Orde Baru berhasil dengan baik menekan
tingkat inflasi dari sekitar 500% pada tahun 1966 menjadi hanya sekedar 5%
hingga 10% pada awal dekade 1970-an. 1998/1999 Utang pemerintah/ APBN US$ 9,051
miliar, kondisi ini masih tetap menunjukkan kerawanan, karena lalu lintas modal
swasta minus US$ 5,607 miliar dan utang jatuh tempo US$ 20,721 miliar dibanding
total ekspor US$ 60,589 miliar. Situasi ini berdampak pada DSR (nisbah utang
jatuh tempo terhadap ekspor)=34,2%.
Utang
swasta meningkat cepat terkendali sejak tahun 1994, sehingga akumulasinya
mencapai US$ 73,962 miliar (1997). Pemerintah maupun sektor swasta pra krisis
moneter (1997) berhutang US$ 5 miliar/ Rp 2,2 triliun; maka di tahun 1998,
nilai utang luar negeri saat jatuh tempo menjadi Rp 14 triliun (beban APBN).
Sumber : KOMPAS, 3 Maret 1998 (dalam Soeharsono Sagir : 2009, 118).
Pertumbuhan
ekonomi bergerak dengan cepat rata-rata 6,8 persen per tahun. Dalam kurun waktu
tahun 1999-2003, investasi berupa pembentukan modal tetap bruto hanya tumbuh
rata-rata 1,3% pertahun jauh dibawah tahun 1991-1996 yang tumbuh rata-rata
10,6% pertahun. Dengan lambannya pemulihan investasi peranan investasi berupa
pembentkan modal tetap bruto terhadap PBD menurun dari 29,6% pada tahun 1997
menjadi 19,7% pada tahun 2003 dibanding dengan keadan sebelum krisis, secara
riil tingkat investasi pada tahun2003 baru mencapai sekitar 69% dari volume
investasi pada tahun 1997.[6] Namun
hutang Indonesia membengkak menjadi US$ 70,9 milyar Hutang inilah sebagai salah
satu faktor penyebab Pemerintahan Orde Baru runtuh.[7]
Pendapatan Nasional Perkapita Indonesia dalam
dollar AS; 1968-1999
Perkembangan
Beberapa Indikator Ekonomi Indonesia
Sejak Krisis Ekonomi 1998
Sejak Krisis Ekonomi 1998
|
Indikator
|
1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008
|
|
Pertumbuhan ekspor (%)
|
8,6 0,4
27,7 9,3 5,0
8,4 12,0 19,7 17,7
13,2 7,0
|
|
Pertumbuhan Impor (%)
|
34,4 12,2 39,6
7,6 15,1 10,9 27,8
24,0 5,8 22,0
12,0
|
Sumber : Citigroup (dalam Tulus Tambunan: 2009, 35)
Bila
kita memperhatikan perkembangan ekspor dan impor nasional dari tahun 1967
hingga 1997 atau selama 30 tahun masa orde baru, telah terjadi adanya kenaikan
yang cukup tajam baik ekspor maupun impornya. Dimasa krisis, khususnya tahun
1998, nilai ekspor Indonesia telah turun dan hanya mencapai kurang lebih US$ 50
milyar sementara nilai impor hampir mencapai US$ 60 milyar. Trend di tahun 1999
memperlihatkan adanya kenaikan impor sedangkan ekspor menurun . Hal ini
diperlihatkan dari angka peningkatan jumlah BUMN yang ber klasifikasi sehat
sekali/sehat, meningkat dari 59,8 % (1997) menjadi 68 % (1998). BUMN yang
berklasifikasi tidak sehat hanya tinggal 14 % di tahun 1998 ( tahun 1997- 33,6
%). Sementara itu laba usaha setelah pajak meningkat 196 % dari Rp. 6,879
triliun (1997) menjadi Rp. 13,538 triliun (1998) dan semester I tahun 1999
telah mencapai Rp. 10,005 triliun.[8]
3. Era
Reformasi
Era
Reformasi dipimpin oleh, B.J. Habibi, kemudian Abdurrahman Wahid (Gusdur),
Megawati Sukarno Putri, Susilo Bambang Yudoyono. Dalam 26 tahun masa orde baru
(1971-1997) rasio pendapatan penduduk daerah terkaya dan penduduk daerah
termiskin meningkat dari 5,1 (1971) menjadi 6,8 (1983) dan naik lagi menjadi
9,8 (1997). Ketika reformasi ketimpangan distribusi pendapatan semakin tinggi
dari 0,29 (2002) menjadi 0,35 (2006). Sehingga dapat dikatakan bahwa kaum kaya
memperoleh manfaat terbesar dari pertumbuhan ekonomi yang dikatakan cukup
tinggi, namun pada kenyataanya tidak merata terhadap masyarakat. [9]
ORLA
mengalami 12 kali kenaikan BBM, ORBA 18 kali kenaikan BBM, Reformasi masa B.J.
Habibi 1 kali kenaikan BBM, Gusdur 1 kali kenaikkan BBM, Megawati 2 kali dan 7
kali penyesuaian harga BBM, SBY 3 kali kenaikan dan 3 kali penurunan.
C. Lampiran
Indikator Makro Perekonomian Indonesia[10]
|
PDB
|
INFLASI
|
NERACA PERDAGANGAN
|
PENGANGGURAN
|
PENDAPATAN PERKAPITA
|
KEMISKINAN
|
|
|
ORDE LAMA
|
$ 70
|
Tingkat inflasi tahun 1966 sebesar 650%
|
US$2,7milyar
|
4,5 juta jiwa
|
US$70
|
70 juta orang
|
|
ORDE BARU
|
Rp.502,249.558
|
Tingkat inflasi tahun 1969 sebesar 9,9%
|
US$6,7milyar
|
6,73 juta jiwa
|
US$770
|
25,9 juta orang
|
|
TRANSISI
|
Rp.1,389,769.700
|
8,1 %
|
US$ 1,8 miliar
|
7,8 juta jiwa
|
Rp. 2.102.000
|
47,97 Juta
|
|
REFORMASI
|
Rp.2,678,664.096
|
6,3 %
|
US$ 8,8 miliar
|
6,76 juta jiwa
|
Rp. 17,9 juta
|
37,17 juta
|
|
SEKARANG
|
Rp. 6,422,918.230
|
5,90 %
|
defisit 327,4 juta dolar AS atau sekitar (Rp 3,18 triliun).
|
7,42 juta jiwa
|
US $4500
|
540 ribu jiwa
|
PMA di Indonesia selama era Orde Baru adalah
pertumbuhan PDB yang pesat, yakni rata-rata per tahun antara 7% hingga 8% yang
membuat Indonesia termasuk negara di ASEAN dengan pertumbuhan yang tinggi.
DAFTAR PUSTAKA
http://ekonomosae.blogspot.com/p/beranda.html “PI-Widi-Sejarah PPI”
http://kadin-indonesia.or.id/enm/images/dokumen/KADIN-98-2495-06022008.pdf
http://www.academia.edu/”
Borjuasi Ekonomi Indonesia Era Reformasi: Warisan Orde Baru Akibat Pengaruh
Ekonomi Dunia yang Terlampau Kuat”
http://kiyay-ipien.blogspot.com/2011/08/arah-kebijakan-penanaman-modal-asing-di.html. ARAH KEBIJAKAN PENANAMAN MODAL ASING DI INDONESIA
http://emilianovitasari.blogspot.com/2011/04/contoh-kasus-penggelapan-pajak.html.“Sejarah Perekonomian Indonesia Orde lama, Orde Baru dan
Reformasi”.
http://www.pacific.net.id. Jakarta, 12 Oktober 1999,Setyanto P. Santosa - Pengamat
Ekonomi).(MENCARI FORMAT BARU: PEMULIHAN EKONOMI NASIONAL DAN PARADIGMA
PENGEMBANGAN BUMN,
http://nita080192.blogspot.com/2013/04/makro-ekonomi-dari-masa-orde-lama.html) makro ekonomi dari masa orde lama hingga maret 2013
suma.ui.ac.id
[2] http://ekonomosae.blogspot.com/p/beranda.html “PI-Widi-Sejarah PPI”
[4] http://www.academia.edu/” Borjuasi Ekonomi Indonesia
Era Reformasi: Warisan Orde Baru Akibat Pengaruh Ekonomi Dunia yang Terlampau
Kuat”
[6] http://kiyay-ipien.blogspot.com/2011/08/arah-kebijakan-penanaman-modal-asing-di.html. ARAH KEBIJAKAN PENANAMAN MODAL ASING DI INDONESIA
[7] http://emilianovitasari.blogspot.com/2011/04/contoh-kasus-penggelapan-pajak.html.“Sejarah Perekonomian Indonesia Orde lama, Orde Baru
dan Reformasi”.
[8] (Jakarta, 12 Oktober 1999,Setyanto P. Santosa - Pengamat
Ekonomi).(MENCARI FORMAT BARU: PEMULIHAN EKONOMI NASIONAL DAN PARADIGMA PENGEMBANGAN
BUMN, http://www.pacific.net.id)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar