Jumat, 02 Oktober 2015

PEREKONOMIAN INDONESIA



A.    Pendahuluan
Gambaran Umum Perekonomian Indonesia Disajikan dalamperspektif sejarah yaitu secara kronologis-history. Tahapan perkembangan :
-          Masa sebelum terjajah ( < tahun 1600 )
-          Masa penjajahan ( tahun 1600 - 1945 )
-          Masa sebelum 1966/ Orde Lama ( tahun 1945 - 1966 )
-          Masa sesudah 1966 ( era Orde Baru )
B.     Pembahasan
1.      ERA ORDE LAMA ( 1945 - 1966 )
Masa Pemerintahan Indonesia Orde lama (Masa Revolusi)  23 tahun yaitu dari tahun 1945-1968 dibawah kepemimpinan sang proklamator Presiden Sukarno. Adanya blokade ekonomi oleh Belanda sejak bulan November 1945 untuk menutup pintu perdagangan luar negri RI. Kas negara kosong, Eksploitasi besar-besaran di masa penjajahan.[1] Soekarno lebih memfokuskan pada aspek politik serta pertumbuhan bangsa melalui adanya pembinaan persamaan dan watak bangsa dengan mengabaikan permasalahan ekonomi. Perekonomian berkembang kurang menggembirakan: Kehidupan politik tidak stabil ( pergantian kabinet ), Defisit anggaran belanja negara terus meningkat (cetak uangbaru > inflasi - sejak 1955), Nasionalisasi perusahaan asing - 1951 / 1958 ( UU No 78 /1958 tentang Investasi Asing > tutupnya Bursa Efek Jakarta > pelarian kapital), Hilangnya pangsa pasar ( gula, karet alam dll ) dalam perdaganganinternasional ( ekspor < 10% PDB > neraca pembayaran tertekan > depresiasirupiah ), Ketidak-mampuan memenuhi kewajiban utang LN ( >US $ 2milyar), Penerimaan ekspor hanya setengah dari pengeluaran impor, Ketidak-berdayaan mengendalikan anggaran belanja dan memungutpajak.

-          Pertumbuhan Ekonomi Indonesia (1951-1957),
 (1951=100) % Perubahan Tahun Indeks
Tahun
Perubahan  indeks
Tahun
Perubahan indeks
1951
1952
1953
1954
1955
1956
1957
1958
100,0-
103,8-3,8
126,8-22,1
128,6-1,4
133,4-3,7
136,4-2,2
144,4-5,8
152,0-5,3
1959
1960
1961
1962
1963
1964
1965
1966
149,1 -1,9
146,8 -1,5
149,4-1,7
145,3 -2,7
141,4 -2,7
144,7-2,4
145,5-0,5
146,4-0,6
*)1951-1957 diukur dengan Pendapatan Nasional Bruto dan 1958-1966 diukur dengan Produk Domestik Bruto. Sumber (Tulus Tambunan: 2006, 19)[2]

-  Pertumbuhan PDB Indonesia, 1965-1996 (% y-o-y)[3]


Sumber : BPS

2.      ERA ORDE BARU (1966-1998)
Orde baru yang dipimpin oleh Soeharto, Ia lebih memfokuskan untuk memperbaiki tatanan ekonomi di Indonesia, sehingga muncul pula slogan “Ekonomi sebagai Panglima” sebagai dukungan untuk gerakan Soeharto dalam membenahi perekonomian Indonesia (Mas’oed, 1989:64). Aksi pemerintah orde lama yang anti terhadap bantuan asing menjadikan pemerintah asing dan bisnis luar negeri sangat berhati-hati dalam memberikan kredit baru kepada orde baru tersebut (Mas’oed, 1989:114). Untuk menarik hati para pihak asing untuk membantu Indonesia, maka pemerintah diharuskan membuka kembali ekonomi terhadap penetrasi modal asing dan mengintegrasikannya dengan sistem ekonomi dunia, yakni sistem kapitalis (Mas’oed, 1989:71).[4]
Program ekonomi ORde Baru : Tahap penyelamatan (juli-desember 1966), Tahap rehabilitasi (januari-juni 1967), Tahap konsolidasi (juli-desember 1967), Tahap stabilisasi (januari-juni 1968).
Repelita I (1969-74) : prioritas adalah stabilitas ekonomi.Pelita II (1974-79): prioritas adalah pertumbuhan ekonomi. Pelita III-Vi: pemerataan, Kinerja perekonomian dalam Pelita I-II cukup memuaskan: Pertumbuhan ekonomi 7% pertahun, Pertumbuhan ekonomi 11% jadi 24% terhadap PDB, Tabungan pemerintah meningkat. Penerimaan devisa meningkat (migas -80%),
Tahun 1970-an perekonomian Indonesia mengalami gangguan : Harga minyak dunia turun dan kuota produksi minyak, Ekspor neto turun 38% dan ekspor nonmigas turun 30% sedangkanimpor nonmigas meningkat, Neraca berjalan defisit US$2,7milyar (1981) dan US$6,7milyar(1982), Pertumbuhan ekonomi 2,24% (1982)
Pelita IV : kebijakan dregulasi dan debirokratisasi. PelitaV Perekonomian Indonesia membaik engan pertumbuhan 6,7%/tahun. Selama PJP I : pertumbuhan ekonomi sebesar 6,7%/tahun,pendapatan perkapita naik dari US$70 (1969) jadi US$770 (1993), pendudukmiskin turun dari 70 juta orang (60%) jadi 25,9 juta orang (13,7%).[5]
Stabilitas politik dan ekonomi. Pemerintahan Orde Baru berhasil dengan baik menekan tingkat inflasi dari sekitar 500% pada tahun 1966 menjadi hanya sekedar 5% hingga 10% pada awal dekade 1970-an. 1998/1999 Utang pemerintah/ APBN US$ 9,051 miliar, kondisi ini masih tetap menunjukkan kerawanan, karena lalu lintas modal swasta minus US$ 5,607 miliar dan utang jatuh tempo US$ 20,721 miliar dibanding total ekspor US$ 60,589 miliar. Situasi ini berdampak pada DSR (nisbah utang jatuh tempo terhadap ekspor)=34,2%.
Utang swasta meningkat cepat terkendali sejak tahun 1994, sehingga akumulasinya mencapai US$ 73,962 miliar (1997). Pemerintah maupun sektor swasta pra krisis moneter (1997) berhutang US$ 5 miliar/ Rp 2,2 triliun; maka di tahun 1998, nilai utang luar negeri saat jatuh tempo menjadi Rp 14 triliun (beban APBN). Sumber : KOMPAS, 3 Maret 1998 (dalam Soeharsono Sagir : 2009, 118).
Pertumbuhan ekonomi bergerak dengan cepat rata-rata 6,8 persen per tahun. Dalam kurun waktu tahun 1999-2003, investasi berupa pembentukan modal tetap bruto hanya tumbuh rata-rata 1,3% pertahun jauh dibawah tahun 1991-1996 yang tumbuh rata-rata 10,6% pertahun. Dengan lambannya pemulihan investasi peranan investasi berupa pembentkan modal tetap bruto terhadap PBD menurun dari 29,6% pada tahun 1997 menjadi 19,7% pada tahun 2003 dibanding dengan keadan sebelum krisis, secara riil tingkat investasi pada tahun2003 baru mencapai sekitar 69% dari volume investasi pada tahun 1997.[6] Namun hutang Indonesia membengkak menjadi US$ 70,9 milyar Hutang inilah sebagai salah satu faktor penyebab Pemerintahan Orde Baru runtuh.[7]
Pendapatan Nasional Perkapita Indonesia dalam dollar AS; 1968-1999
Perkembangan Beberapa Indikator Ekonomi Indonesia
Sejak Krisis Ekonomi 1998
Indikator
1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008
Pertumbuhan ekspor (%)
  8,6    0,4   27,7   9,3    5,0     8,4    12,0 19,7   17,7  13,2  7,0
Pertumbuhan Impor (%)
34,4  12,2  39,6  7,6     15,1 10,9   27,8  24,0    5,8    22,0  12,0
Sumber : Citigroup (dalam Tulus Tambunan: 2009, 35)
Bila kita memperhatikan perkembangan ekspor dan impor nasional dari tahun 1967 hingga 1997 atau selama 30 tahun masa orde baru, telah terjadi adanya kenaikan yang cukup tajam baik ekspor maupun impornya. Dimasa krisis, khususnya tahun 1998, nilai ekspor Indonesia telah turun dan hanya mencapai kurang lebih US$ 50 milyar sementara nilai impor hampir mencapai US$ 60 milyar. Trend di tahun 1999 memperlihatkan adanya kenaikan impor sedangkan ekspor menurun . Hal ini diperlihatkan dari angka peningkatan jumlah BUMN yang ber klasifikasi sehat sekali/sehat, meningkat dari 59,8 % (1997) menjadi 68 % (1998). BUMN yang berklasifikasi tidak sehat hanya tinggal 14 % di tahun 1998 ( tahun 1997- 33,6 %). Sementara itu laba usaha setelah pajak meningkat 196 % dari Rp. 6,879 triliun (1997) menjadi Rp. 13,538 triliun (1998) dan semester I tahun 1999 telah mencapai Rp. 10,005 triliun.[8]
3.      Era Reformasi
Era Reformasi dipimpin oleh, B.J. Habibi, kemudian Abdurrahman Wahid (Gusdur), Megawati Sukarno Putri, Susilo Bambang Yudoyono. Dalam 26 tahun masa orde baru (1971-1997) rasio pendapatan penduduk daerah terkaya dan penduduk daerah termiskin meningkat dari 5,1 (1971) menjadi 6,8 (1983) dan naik lagi menjadi 9,8 (1997). Ketika reformasi ketimpangan distribusi pendapatan semakin tinggi dari 0,29 (2002) menjadi 0,35 (2006). Sehingga dapat dikatakan bahwa kaum kaya memperoleh manfaat terbesar dari pertumbuhan ekonomi yang dikatakan cukup tinggi, namun pada kenyataanya tidak merata terhadap masyarakat. [9]
ORLA mengalami 12 kali kenaikan BBM, ORBA 18 kali kenaikan BBM, Reformasi masa B.J. Habibi 1 kali kenaikan BBM, Gusdur 1 kali kenaikkan BBM, Megawati 2 kali dan 7 kali penyesuaian harga BBM, SBY 3 kali kenaikan dan 3 kali penurunan.
C.     Lampiran
Indikator Makro Perekonomian Indonesia[10]

PDB
INFLASI
NERACA PERDAGANGAN
PENGANGGURAN
PENDAPATAN PERKAPITA
KEMISKINAN
ORDE LAMA
$ 70
Tingkat inflasi tahun 1966 sebesar 650%
US$2,7milyar
4,5 juta jiwa
US$70
70 juta orang
ORDE BARU
Rp.502,249.558
Tingkat inflasi tahun 1969 sebesar 9,9%
US$6,7milyar
6,73 juta jiwa
US$770
25,9 juta orang
TRANSISI
Rp.1,389,769.700
8,1 %
US$ 1,8 miliar
7,8 juta jiwa
Rp. 2.102.000
47,97 Juta
REFORMASI
Rp.2,678,664.096
6,3 %
US$ 8,8 miliar
6,76 juta jiwa
Rp. 17,9 juta
37,17 juta
SEKARANG
Rp. 6,422,918.230
5,90 %
defisit 327,4 juta dolar AS atau sekitar (Rp 3,18 triliun). 
7,42 juta jiwa
US $4500
540 ribu jiwa
 
PMA di Indonesia selama era Orde Baru adalah pertumbuhan PDB yang pesat, yakni rata-rata per tahun antara 7% hingga 8% yang membuat Indonesia termasuk negara di ASEAN dengan pertumbuhan yang tinggi.



DAFTAR PUSTAKA

http://ekonomosae.blogspot.com/p/beranda.html “PI-Widi-Sejarah PPI”

http://kadin-indonesia.or.id/enm/images/dokumen/KADIN-98-2495-06022008.pdf

http://www.academia.edu/” Borjuasi Ekonomi Indonesia Era Reformasi: Warisan Orde Baru Akibat Pengaruh Ekonomi Dunia yang Terlampau Kuat”
http://emilianovitasari.blogspot.com/2011/04/contoh-kasus-penggelapan-pajak.html.“Sejarah Perekonomian Indonesia Orde lama, Orde Baru dan Reformasi”.
http://www.pacific.net.id. Jakarta, 12 Oktober 1999,Setyanto P. Santosa - Pengamat Ekonomi).(MENCARI FORMAT BARU: PEMULIHAN EKONOMI NASIONAL DAN PARADIGMA PENGEMBANGAN BUMN,

http://nita080192.blogspot.com/2013/04/makro-ekonomi-dari-masa-orde-lama.html) makro ekonomi dari masa orde lama hingga maret 2013

suma.ui.ac.id


[4] http://www.academia.edu/” Borjuasi Ekonomi Indonesia Era Reformasi: Warisan Orde Baru Akibat Pengaruh Ekonomi Dunia yang Terlampau Kuat”
[7] http://emilianovitasari.blogspot.com/2011/04/contoh-kasus-penggelapan-pajak.html.“Sejarah Perekonomian Indonesia Orde lama, Orde Baru dan Reformasi”.
[8] (Jakarta, 12 Oktober 1999,Setyanto P. Santosa - Pengamat Ekonomi).(MENCARI FORMAT BARU: PEMULIHAN EKONOMI NASIONAL DAN PARADIGMA PENGEMBANGAN BUMN, http://www.pacific.net.id)

[10] (http://nita080192.blogspot.com/2013/04/makro-ekonomi-dari-masa-orde-lama.html) makro ekonomi dari masa orde lama hingga maret 2013

Tidak ada komentar:

CONTOH PIDATO BAHASA INGGRIS MUDAH

Assalammu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh Excellency Mr. ..........  the director of ......... Respectable Mr...................