PENDAHULUAN
Terminologi
"blue economy" merupakan dinamika pemikiran konsep pembangunan
terbaru yang kini sedang berkembang dengan mengandalkan sumber daya laut atau
perairan yang berlandaskan pada tiga pilar terintegrasi yaitu ekosistem,
ekonomi dan sosial.
Istilah
blue economy tersebut telah diangkat dalam berbagai kerjasama internasional,
seperti pada pertemuan tingkat Senior Officials Meeting (SOM) for the Asia
Pacific Economic Cooperation (APEC). Konsep tersebut adalah konsep pengembangan
yang membidik tiga kepentingan, yakni Pertumbuhan, Kesejahteraan masyarakat dan
Penyehatan lingkungan.
Unpad.ac.id, 3/03/2014] Potensi perikanan dan
kelautan bangsa Indonesia diharapkan menjadi primadona baru pembangunan di masa
datang. Potensi tersebut bila dikembangkan dengan baik, akan menghasilkan
pendapatan negara yang luar biasa. Kesadaran untuk mengembangkan potensi
tersebut juga harus dibarengi dengan kesadaran menjaga lingkungan agar dapat
terus memberi manfaat untuk generasi mendatang. Hal inilah yang kemudian
dikembangkan dalam konsep Blue Economy untuk melengkapi konsep Green
Economy yang telah dipopulerkan sebelumnya. Menurut Menteri Kelautan dan
Perikanan RI, Sharif C. Sutardjo, konsep ini cocok untuk dikembangkan oleh
Indonesia mengingat kondisi geografi Indonesia yang memiliki lautan lebih luas
dibandingkan dengan daratan dengan segenap potensinya yang berlimpah.[1]
Konsep pembangunan berkelanjutan dirancang agar
tidak merusak sistem alam, seperti; atmosfer, air, tanah, dan makhluk hidup.
Selain itu, mengurangi pencemaran dan kerusakan lingkungan, mengendalikan
eksploitasi sumber daya alam, dan berkeadilan.
Blue economy, kata Sharif, merupakan pengkayaan
dari green economy dengan semboyan “Blue Sky Blue Ocean”. Semboyan itu berarti
ekonomi tumbuh, rakyat sejahtera, namun langit dan laut tetap biru. Konsep blue
economy adalah berkelanjutan dengan mengefisienkan sumber daya alam. Selain
itu, tanpa limbah. Limbah dijadikan sebagai bahan baku bagi produk lain,
sehingga limbah menghasilkan lebih banyak produk dan pendapatan.
Dampak lain dari blue economy adalah
melipatgandakan pendapatan masyarakat dan perluasan lapangan kerja. Bagi
perusahaan yang menerapkan konsep ini, dapat melipatgandakan pendapatan
perusahaan karena memanfaatkan sumber daya alam lebih efisien.[2]
PEMBAHASAN
KKP, tegas Andha (Inspektur Jenderal KKP Andha Fauzie Miraza mewakili Menteri
Kelautan dan Perikanan, dalam acara Media Gathering mengenai Kilas Balik
Program Kementerian Kelautan dan Perikanan, di Jakarta Kamis (19/12).),
tetap akan fokus pada pelaksanaan Industrialisasi kelautan dan perikanan dengan
pendekatan blue economy melalui peningkatan nilai tambah dan
sinergi hulu-hilir usaha ekonomi kelautan dan perikanan.
Program ini berbasis pada komoditas, kawasan
serta pembenahan sistem dan manajemen. Untuk program pengembangan kawasan
Minapolitan, KKP akan melakukan evaluasi kegiatan Minapolitan dan tindak lanjut
percepatan pengembangannya melalui strategi industrialisasi. Termasuk
program PNPM Mandiri Kelautan dan Perikanan dan program Peningkatan Kehidupan
Nelayan dalam rangka pelaksanaan MP3KI melalui evaluasi dampak PNPM
Mandiri KP. “Sesuai dengan roadmap dan kriteria yang telah ditetapkan
pelaksanaan program PUMP, PUGAR dan PDPT akan dilaksanakan di 200 lokasi
pelabuhan PPI serta memastikan kegiatan lintas sektor dapat terlaksana“
jelasnya.
Selain itu, yang penting adalah perubahan
secara dramatis cara berbisnis dengan cara berfikir (out of the box) yang
mengacu pada inovasi dan kreativitas dalam berbisnis, diversifikasi produk, sistem
produksi, pemanfaatan teknologi, financial engeneering, sehingga berpeluang
untuk menciptakan pasar baru bagi produk-produk yang dihasilkan. “Pemerintah
akan menetapkan sejumlah daerah untuk dijadikan model pembangunan dengan konsep
blue economy. Berbagai daerah percontohan sudah berjalan dan bisa
dilihat keberhasilannya. Untuk kepulauan, Pulau Anambas ditunjuk sebagai model
percontohan, untuk teluk dipilih teluk Tomini, untuk kawasan konservasi laut
ditetapkanlah Waktobi sedangkan pembangunan kelautan secara terpadu di Nusa
Tengara Timur,” jelasnya.
Andha menjelaskan, untuk mendukung MP3EI, KKP
tetap melaksanakan pengembangan sarana dan prasarana kelautan dan perikanan
pada 3 Koridor Ekonomi (Sulawesi, Nusa Tenggara dan Bali, serta Papua dan Papua
Barat). Diantaranya, pengembangan infrastruktur perikanan berkoordinasi dengan
Pemda dan lintas kementerian dan lembaga. Disamping itu juga dilakukan
penguatan litbang dan peningkatan kapasitas SDM KP serta penguatan penyuluhan
melalui perluasan jangkauan Iptekmas, inovasi litbang, pelatihan dan penyuluhan
serta peningkatan mutu pendidikan. Tahun ini KKP juga tetap fokus pada
pengembangan karantina ikan dan pengendalian mutu melalui peningkatan
mutu produk dan pengendalian impor ikan. “Untuk bidang konservasi dan
lingkungan,KKP telah mendorong Pemda terlibat pelaksanaan COREMAP III serta
peningkatan kualitas lingkungan di pulau-pulau kecil melalui rehabilitasi
ekosistem pesisir,” paparnya.[3]
Ekonomi biru meliputi berbagai sektor yang
cukup luas, seperti perikanan dan budi daya, pembangunan industri kelautan,
wisata bahari, energi laut serta perlindungan ekosistem laut dan pesisir.
Sebagai implementasinya, KKP berkomitmen penuh meningkatkan produksi dan
produktivitas perikanan budi daya yang berdaya saing, berkeadilan,
berkelanjutan diiringi produk yang memenuhi standar mutu pangan (food safety).
KKP juga menerapkan sertifikasi perbenihan dan
pembudidayaan guna menghasilkan produk yang menganut jaminan mutu. Kemudian,
mempercepat pembangunan dan rehabilitasi sarana dan prasarana budi daya serta
mengembangkan kerja sama dan kemitraan dengan perbankan maupun lembaga
pembiayaan lainnya. [4]
Jakarta, 25 Februari 2014 (ANTARA) -
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) semakin memantapkan beberapa program
implementasi konsep Blue Economy di Indonesia, di antaranya di wilayah
Lombok Tengah-Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Sebagai wujud
implementasi hal tersebut, dilakukan penandatanganan Kesepakatan Bersama antara
KKP dengan Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah dan Lombok Timur. Kesepakatan
bersama tersebut diarahkan untuk meningkatkan pengelolaan sumberdaya kelautan
dan perikanan secara optimal dan lestari berbasis blue economy di Pulau
Lombok. Demikian disampaikan Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif C. Sutardjo pada
acara penandatanganan Kesepakatan Bersama antara KKP dan Pemerintah Kabupaten
Lombok Tengah dan Lombok Timur di Jakarta, Selasa (25/2).
Sharif menegaskan, selain difokuskan pada
implementasi blue economy, kerjasama tersebut juga mencakup pengembangan
kawasan, komoditas, inovasi teknologi dan sumberdaya manusia serta pengawasan
pengelolaan sumberdaya kelautan dan perikanan. Sejak ditandatanganinya
memorandum saling pengertian antara KKP dengan FAO pada tanggal 27 Mei 2013,
telah banyak proyek telah berhasil dilaksanakan. “Saya menyambut gembira
disepakatinya program kolaboratif oleh KKP dan FAO untuk tahun 2014-2015. Salah
satunya adalah pelaksanaan kawasan pengembangan blue economy di Pulau Lombok”,
jelas Sharif.
Sharif menjelaskan, program dan aktivitas yang
dilakukan KKP-FAO berupa proyek-proyek yang secara langsung diimplementasikan
pada tataran teknis atau berbagai kegiatan yang bersifat capacity building,
training dan sharing information di bidang kelautan dan
perikanan. Bahkan, beberapa proyek telah diselesaikan pada kurun waktu tahun
2007 hingga tahun 2011. Untuk tahun 2013, kerjasama dengan FAO diperluas dengan
melibatkan semua unit eselon I yang ada di KKP. Beberapa program kerjasama
KKP–FAO yang dimulai tahun 2012 hingga kini masih berjalan. Di antaranya,
program The Bay of Bengal Large Marine Ecosystem Project (BOBLME).
Program yang masuk agenda tahun 2012-2014 bertujuan untuk menyusun rencana aksi
strategis perlindungan ekosistem dan pengelolaan sumber daya perikanan Teluk
Benggala secara berkelanjutan dalam meningkatkan keamanan pangan dan mata
pencaharian masyarakat pesisir. “Program lain yang masih berjalan adalah Strategies
for Trawl Fisheries Bycatch Management (REBYC-II CTI). “Program tahun
2012-2016, ini merupakan proyek terkait pengurangan tangkapan by catch
dan dampak penggunaan pukat ikan,” jelasnya.
Menurut Sharif, kerjasama KKP-FAO juga langsung
bersentuhan dengan kepentingan para nelayan. Di antaranya program Regional
Fisheries Livelihoods Programme for South and Southeast Asia tahun
2009-2013. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas masyarakat nelayan
skala kecil dan lembaga pendukung di Kamboja, Indonesia, Filipina, Sri Lanka,
Timor-Leste dan Vietnam. Di Indonesia, program Regional Fisheries
Livelihoods Programme ini diimplementasikan di Kota Kupang, Nusa Tenggara
Timur (NTT) dan sudah memasuki tahap akhir. “Pada Desember 2012 dan Januari
2013, Divisi Fisheries and Aquaculture FAO, melalui Dr. Indroyono
Soesilo, Director of Fisheries and Aquaculture telah mengajukan beberapa
usulan kerjasama untuk aktivitas perikanan KKP-FAO di Tahun 2013,” ujarnya.[5]
"Penggunaan sumber daya alam harus tetap kita jaga. Caranya, bagaimana
pemakaian sumber daya alam secara efisien, tak ada lagi imbah, memberikan
pendapatan pada masyarakat, dan menjaga ekosistem kelautan. Ini tujuan blue
economy.[6]
Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip
Sutardjo mengemukakan, pihaknya menekankan pada penerapan ilmu pengetahuan dan
teknologi (Iptek) yang tepat dalam mengembangkan konsep ekonomi biru (blue
economy).
"Penerapan konsep ekonomi biru membutuhkan
dukungan pengetahuan dan teknologi `cutting-edge innovations` yang tidak hanya
mampu memanfaatkan sumber daya alam secara berkelanjutan tetapi lebih nyata
dalam menerapkan inovasi terkait sistem produksi bersih tanpa limbah,"
kata Sharif Cicip Sutardjo, Senin.
Ia berpendapat, pusat-pusat pendidikan ilmu
pengetahuan sebagai sumber inovasi dan inspirasi "center of
excellence" (pusat kecemerlangan) berperan sangat penting dalam memperluas
dan memperdalam riset dalam mengembangkan paradigma "blue economy".
Di sisi lain, terintegrasinya kegiatan usaha
antara budidaya udang, benih udang, mangrove, makanan ternak, usaha peternakan,
kotoran ternak, lalat, saliva, farmasi, dan rumput laut. "Masing-masing
dari produk tersebut mampu meningkatkan `revenue` (pendapatan) secara
signifikan sekaligus membuka kesempatan kerja masyarakat lokal," katanya.[7]
TAHUN
2013 BLUE ECONOMY MULAI DITERAPKAN
KKP NEWS || Kementerian
Kelautan dan Perikanan (KKP) menyatakan, pada 2013 akan menerapkan paradigma
blue economy di beberapa titik wilayah di Indonesia Timur dan Barat sebagai
langkah strategis di dalam percepatan industrialisasi kelautan dan perikanan.
“Kita telah mengadakan
kerjasama (MoU) dengan Direktur Blue Economy Holding KK Gunter Pauli.
Pada 2013, pilot project blue economy segera diimplementasikan dari
beberapa titik di wilayah Indonesia Bagian Barat hingga Wilayah Timur
Indonesia,” jelas Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif C.Sutardjo di Bogor,
Jawa Barat Rabu(28/11).
Kerja sama tersebut
menyepakati lima poin penting di dalam pengembangan blue economy di
Indonesia:
1. Pemerintah akan mengindentifikasi peluang-peluang investasi di sektor
kelautan dan perikanan yang dapat dikembangankan berbasis blue economy.
2. Pengembangan usaha dan investasi berbasis model blue economy.
3. Pengembangan sumber daya manusia di bidang kelautan dan perikanan.
4. Pengembangan dokumentasi dan materi Blue Economy untuk publik.
5. Upaya untuk mempromosikan penyelenggaraan dan partisipasi bersama di dalam
pertemuan internasional.
Blue economy telah
diusulkan sebagai Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) sektor kelautan
dan perikanan 2013-2025. “Sehingga kita perlu melakukan koordinasi dan
memperkaya lagi mengenai inovasi dan kreativitas untuk diimplementasikan di
lapangan,” sambungnya.
Pengembangan aktivitas
ekonomi berbasiskan pesisir dan laut yang terintegrasi dengan
Integrated Coastal Management (ICM) membutuhkan suatu pemetaan tata ruang
laut (zonasi) secara spesifik. Pemetaan kawasan tersebut bertujuan untuk
memanfaatkan dan mengelola sumber daya alam dan lingkungan dengan efisien dan
ramah lingkungan secara berkelanjutan.
“Perencanaan tata ruang
secara terpadu bertujuan untuk melindungi sumber daya renewable dan
non-renewable di sekitar lokasi eksploitasi sumber daya,” jelasnya. Selain itu,
lewat paradigma blue economy KKP berkeinginan untuk mengembangkan
teknologi ramah lingkungan bagi kapal nelayan yang meminimalisir penggunaan
bahan bakar fossil.
Sehubungan dengan itu,
KKP telah menyurati Kementerian ESDM untuk mendukung program konversi energi
ramah lingkungan bagi kapal-kapal perikanan. Energi alternatif tersebut berupa,
solar cell, hybrid, compressed natural gas (CNG), termasuk penggunaaan angin
untuk menghasilkan listrik sebagai penggerak kapal perikanan sehingga
ketergantungan akan energi fosil dapat dikikis.
Terkait program
konversi energi dari BBM ke gas untuk 2012, KKP telah menyerahkan 30 tabung gas
elpiji kepada nelayan di Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Lekok, Pasuruan dan
100 tabung untuk nelayan di PPI Muara Angke Jakarta. Konversi bahan
bakar ke elpiji diproyeksikan menghemat biaya operasional yang dikeluarkan
nelayan sebesar 51 persen.
Marwoto menjelaskan,
prinsip blue economy pada dasarnya menekankan pada inovasi dan kreatifitas
untuk mengolah limbah menjadi bahan baku sebuah produk tanpa menyisakan
limbah (zero-waste). “Maka dari itu, kita perlu siapkan pelabuhan
perikanan yang mengadopsi blue economy di industri-industri pengolahan
untuk memanfaatkan limbah seperti plastik, ikan dan sampah menjadi produk
turunan seperti pakan ikan dan tepung ikan,” jelasnya.
Blue economy sebagai
mainstream pembangunan nasional dapat mengintegrasikan antara pembangunan
ekonomi berbasis darat dan laut secara berkelanjutan. Sehingga
diperlukannya perencanaan tata ruang (zonasi) untuk menarik para
investor.[8]
Prinsip
yang diterapkan pada pembangunan sektor kelautan dan perikanan dengan konsep blue
economy antara lain: pertama, terintegrasi antara ekonomi dan
lingkungan, jenis ivestasi dan sistem produksi, kebijakan pusat, daerah, dan
lintas sektor.
Kedua,
berbasis kawasan. Yakni kawasan ekonomi potensial dan lintas batas ekosistem,
wilayah administratif, dan lintas sektor. Ketiga, sistem produksi bersih,
efisien tanpa limbah, bebas pencemaran, dan tidak merusak lingkungan.
Keempat,
investasi kreatif dan inovatif, yakni penanaman modal dan bisnis dengan model blue
economy. Selanjutnya, berkelanjutan. Seimbang antara pemanfaatan
ekonomi sumber daya alam dan pelestarian lingkungan.[9]
PENUTUP
Ekonomi
biru dapat dilihat sebagai tindakan yang bertumpu pada pengembangan ekonomi
rakyat secara komprehensif guna mencapai pembangunan secara keseluruhan,
sumberdaya laut yang diolah akan dimanfaatkan secara optimal sebagai mainstream
pembangunan ekonomi nasional.
Terdapat
beberapa sektor ekonomi kelautan yang dapat dikembangkan guna memajukan dan
memakmurkan bangsa Indonesia, yaitu kekayaan sumberdaya hayati yang dapat
diperbaharui (hasil-hasil perikanan), nonhayati (mineral, minyak bumi dan gas),
energi kelautan (energi pasang surut, gelombang, ocean thermal energy
conversion (OTEC)) serta jasa-jasa kelautan lainya.
Namun,
tanpa pembenahan dan peningkatan teknologi pengelolaan, pola pemanfaatan yang
baik serta wawasan dan kebijakan pemimpin, semua itu tidak akan membuat banyak
arti bagi kemakmuran rakyat.
Masa
depan visi Indonesia dalam eksistensinya sebagai negara kepulauan tidak hanya
tergantung pada semua gagasan dan kebijakan generasi kepemimpinan hari ini,
tetapi juga pada kemampuan kita mempersiapkan generasi kepemimpinan berikutnya
untuk melanjutkan dan mengembangkannya secara produktif dan inovatif.
Pembangunan
juga ditujukan untuk peningkatan dan penguatan peranan sumberdaya manusia di
bidang kelautan dan perikanan serta membangkitkan wawasan bahari dan kekuatan
pertahanan kedaulatan sebagaimana sejarah membuktikannya bahwa penguasaan laut
sangat menentukan kekuatan dan keamanan suatu negara (Who Command the Sea,
Command the World).
Apabila
pemerintah mampu mendayagunakan segenap potensi ekonomi kelautan, maka sektor
ini tidak hanya mampu mengeluarkan bangsa dari persoalan utang luar negeri,
kemiskinan dan pengangguran, juga dapat menghantarkan Indonesia menjadi bangsa
yang maju, adil, makmur dan bermartabat.
Konsep
"blue economy" yang baru muncul sekarang ini sebenarnya telah lama
dijelaskan dalam Surat An Nahl (QS; 16) ayat 14, Allah berfirman "Dan
Dialah Allah, yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan
darinya daging yang segar (ikan) dan kamu mengeluarkan dari lautan perhiasan
yang kamu pakai, dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu
mencari (keuntungan/kemakmuran) dari karunia-Nya, dan supaya kamu
bersyukur."[10]
DAFTAR PUSTAKA
http://www.unpad.ac.id/agenda/seminar-nasional-fmipa-unpad-2014-peran-ilmu-dasar-dalam-menunjang-pembangunan-berwawasan-lingkungan/Indonesia. Kembangkan Potensi Kelautan dan Perikanan dengan Pendekatan Blue
Economy. 3 Maret 2014
http://kkp.go.id/index.php. " Blue Economy,
Dukung Industrialisasi KP ". 19/12/2013 - Kategori Siaran Pers. No.
179/PDSI/HM.310/XII/2013. Siaran Pers .
http://penyuluhkp.blogspot.com/. " The Blue Economy ". Sumber: INDONESIA FINANCE
TODAY.COM Tanggal 26 September 2013 Hal. 1
Antaranews.com.” KKP Jadikan Lombok Kawasan Blue Economy “. Selasa,
25 Februari 2014 15:33 WIB | 2.282 Views.
Tribunnews.com. “Konsep 'Blue Economy' Tingkatkan Sumber Daya
Perikanan “. Selasa, 25 Februari 2014 19:14 WIB
http://www.indonesia.go.id/in/kementerian/kementerian/kementerian-kelautan-dan-perikanan/829-kelautan/10712-cicip-minta-transportasi-laut-diberikan-insentif. Menteri KKP tekankan iptek dalam "blue economy" . senin
07 Januari 2013
http://www.indonesia.go.id. " TAHUN 2013 BLUE
ECONOMY MULAI DITERAPKAN ". Kamis, 29 November 2012.
https://www.unila.ac.id/. " Seminar Nasional
Blue Economy ".
http://news.detik.com/read/2012/11/0...i-blue-economy." Default Blue economy, dampak positif dan negatifnya dalam
rangka menguatkan ekonomi rakyat ". 15 oktober 2014.
[1] http://www.unpad.ac.id/agenda/seminar-nasional-fmipa-unpad-2014-peran-ilmu-dasar-dalam-menunjang-pembangunan-berwawasan-lingkungan/Indonesia. Kembangkan
Potensi Kelautan dan Perikanan dengan Pendekatan Blue Economy. 3 Maret 2014
[3] http://kkp.go.id/index.php. " Blue Economy, Dukung Industrialisasi KP
". 19/12/2013 - Kategori Siaran Pers. No. 179/PDSI/HM.310/XII/2013. Siaran
Pers .
[4] http://penyuluhkp.blogspot.com/. " The Blue
Economy ". Sumber: INDONESIA FINANCE TODAY.COM Tanggal 26 September 2013
Hal. 1
[5] Antaranews.com.” KKP Jadikan Lombok
Kawasan Blue Economy “. Selasa, 25 Februari 2014 15:33 WIB | 2.282 Views.
[6] Tribunnews.com. “Konsep 'Blue
Economy' Tingkatkan Sumber Daya Perikanan “. Selasa, 25 Februari 2014 19:14 WIB
[7] http://www.indonesia.go.id/in/kementerian/kementerian/kementerian-kelautan-dan-perikanan/829-kelautan/10712-cicip-minta-transportasi-laut-diberikan-insentif. Menteri KKP
tekankan iptek dalam "blue economy" . senin 07 Januari 2013
[8] http://www.indonesia.go.id. " TAHUN 2013 BLUE ECONOMY MULAI DITERAPKAN
". Kamis, 29 November 2012.
[10] http://news.detik.com/read/2012/11/0...i-blue-economy." Default
Blue economy, dampak positif dan negatifnya dalam rangka menguatkan ekonomi
rakyat ". 15 oktober 2014.
1 komentar:
As reported by Stanford Medical, It is indeed the ONLY reason women in this country live 10 years longer and weigh an average of 42 pounds less than us.
(And by the way, it is not related to genetics or some secret exercise and EVERYTHING about "how" they eat.)
BTW, What I said is "HOW", and not "what"...
CLICK this link to uncover if this brief quiz can help you unlock your true weight loss possibilities
Posting Komentar